Monday, May 7, 2012

"Tak Ada Matinya" jilid 02....

Apakah saya masih hidup dalam buntalan masa lalu? Terbungkus dalam sejarah perjalanan hidup saya. Hampir setiap kata yang tertuang dalam tulisan ini adalah gambaran masa lalu.

Bayang-bayang masa lalu terkadang menjadi api penyulut  untuk berfantasi. Bernostalgia. Memutar kembali selaksa-selaksa memori lalu dalam hati, "andai kata waktu itu saya tidaklah egois, tidak bersifat terlalu emosional mungkin tak ada penyesalan". Rasa bersalah selalu hadir. Mengajak manusia agar dengan sikap bijak mengevaluasi diri. Seperti hari ini, saat ini, detik ini. Akan menyesali kekhilafan masa lampau. Begitupun  ketika hari ini kita berbuat salah, bukan tidak mungkin akan melakukan pengoreksian diri. Di masa yang akan datang. Entah itu esok hari, lusa, tahun depan, atau sewindu lagi.

Masa lalu adalah goresan sejarah yang terbagi dalam dua kategori. Antara kegagalan dan kebanggaan. sakit hati, patah hati, kehilangan semua terangkum dalam kategori yang berjudul kegagalan. Sudahkah kita merasakan getirnya kegagalan dalam hidup ini? Syukurlah kiranya bila pernah melalui fase itu. Berarti kita, secara alamiah telah melalui proses dan gemblengan menjadi jiwa-jiwa yang kuat.

Adalah kegagalan yang  mampu membuat kita akan merasa takjub. Tatkala memetik hasil dari kegigihan kita berjuang. Walaupun kerapkali kegagalan menjadi tema dan menghantui  perjuangan hidup. Tapi toh suatu ketika pada akhirnya manusia mampu melewati itu semua.

Beberapa penggal mukadimah. Sebelum lebih jauh berjalan ke cerita dalam tulisan ini..

"Awas kalau lagi jalan bareng sama Hartomo", pesan Didi pada saya. Kata dia bahwa Hartomo seringkali bikin temannya malu. Sering iseng ngerjain teman yang lagi jalan bareng dengannya. Alamat bakal jatuh harga diri jadi hal yang tak terhindarkan. Setengah tak percaya saya cuma menanggapi, "masa sih boy?", itupun dengan nada dan ekspresi tak sepenuhnya ingin membahas. "Udahlah kalo ga' percaya, entar juga bakal ngalamin sendiri", Didi mengakhiri topik pembicaraan. Tanpa melanjutkan lagi. Atau paling tidak menjelaskan hal apa yang diperbuat Hartomo hingga membuatnya malu dan jatuh harga dirinya. Waktupun bergulir begitu saja. Melewatkan jam, hari, pekan, lalu bergeser ke bulan berikutnya. Bak angin lalu ocehan Didi tentang Hartomo. Sekadar numpang di telinga saya. Hingga akhirnya. Sometime. Di penghujung kegiatan belajar di sekolah.

Tettttt...........tettttttttttttttt..............tettttttttttttt. Bel sekolah waktu pulang akhirnya berbunyi. "Thank's God atas limpahan ilmu di hari ini, semoga bermanfaat bagi kami dan orang-orang sekitar kami. Amin". Sambil mengusapkan kedua telapak tangan kami usapkan ke wajah. Mengakhiri do'a penutup belajar yang barusan kami lafalkan dalam hati. Seperti biasa.

Lalu bersama siswa lainnya saya menghamburkan diri keluar. Sekejap suasana layaknya segerombolan hewan ternak lepas dari kandang. Saling berdahuluan berebut tempat terdepan untuk mencapai dunia luar kandang. Ada suara derap sepatu, gelak tawa, obrolan, guncangan mesin sepeda motor. Membayangkan itu semua terlintas dalam benak saya. Sebuah pertanyaan tentang dimana keberadaan mesin waktu. Bisakah saya untuk sebentar saja kembali ke masa itu? Atau mungkin sebuah cermin ajaib yang mampu menembus jaman. "Oh tidak mungkin bisa terjadi semua itu. Pengulangan masa lalu hanya boleh saya tuangkan dalam tulisan ini".

Apakah ini memang hari yang tak bersahabat bagi saya? Ban sepeda bocor pas tadi pagi mau berangkat. Jarak tempuh ke sekolah yang lumayan bikin kaki saya agak pegal. Namun apalah mau dikata. Hidup memang penuh kejutan. Siapa bisa menebak nasib dengan pasti? Bila mengingat bahwa nasib itu sendiri tak memiliki rumus agar tercapai takaran yang tepat. Seperti biasa ketika dalam keadaan yang lumayan bikin apes seperti ini saya biasa mengandai-andai. Dan semoga saya bukan satu-satunya di dunia ini. Sedikit menukil kata-kata John Lenon. Saya ingin berbagi.

Siang dan terik matahari menikam tepat di ubun-ubun. Huft.. Akan banyak berkurang bila, andai saja ban sepeda saya tidak dalam kondisi yang menggenaskan. Walaupun sama-sama mengeluarkan tenaga ekstra. Antara menggowes pedal sepeda dan jalan kaki jelas ada kesenjangan yang signifikan. Sekali mengayuh pedal hitunglah lima meter terlampaui. Tapi selangkah kaki manusia yang postur tubuhnya seperti saya? Ah hampir tak pernah terlintas dalam benak dan pikiran ini. Tentang rumus persamaan antara dua kegiatan tersebut. Walaupun sepeda yang saya pakai adalah barang kawakan toh masih berfungsi dengan baik segala perangkatnya. Namun untuk hari ini lain sekali. Alat transportasi bertenaga nasi pecel yang bias saya gunakan itu. Konon adalah produksi dari Republik Rakyat Tiongkok (RRT), kata bapak saya sih.

Tapi tanpa ada rasa canggung, malu lebih-lebih gengsi saya tetap enjoy saja menikmati sarana transportasi darat tersebut. Buat saya, "hidup itu akan terasa lebih nikmat tanpa dihantui rasa gengsi", filosofi yang lumayan keren kan?

Masih dalam cerita di siang hari...

Membayangkan ketika pedal sepeda saya kayuh, dan rodapun melaju. Seketika fiuhh angin dari arah berlawanan mwnyapu wajah. Menjadi kilasan-kilasan kesegaran ditengah-tengah siraman panas sang raja siang. Sementara saya masih asik dalam berandai-andai guna menghibur diri yang dirundung ketidaknyamanan melewati hari ini. "Yu kamu gak bawa sepeda ya?". Suara lantang dari arah belakang menghentikan langkah saya. Di depan gerbang sekolah. Lalu medekatlah teman itu. Tak salah lagi Hartomo alias Mbah Kung rupanya ada maksud dengan pertanyaan lantangnya. Seorang teman berkacamata tebal itu. Di cerita sebelumnya sudah saya obrak-abrik profilnya.

Padahal beberapa jam lalu dia sudah tahu bahwa saya berangkat sekolah jalan kaki. Juga tentang sebab musababnya secara terpeinci dan detailnya telah mengetahuinya pula. Awalnya saya cuma menganggap kalau dia cuma basa-basi. Pemanis mulut. Pembuka obrolan. Biasalah manusia selalu saja ada cara untuk mengisi hidup ini agar tidak membosankan. Walaupun apa yang Mbah Kung tanyakan merupakan ungkapan retorik saat itu. Jadi mubazir bila segenap energi dan pikiran saya harus saya kerahkan guna menjawab pertanyaan itu. Toh juga tak dapat membantu memperbaiki nasib saya hari itu. Namun sepersekian waktu berlalu. Dugaan saya tidak sepenuhnya benar.

Syak wasangka, manusia seringkali diselimuti rasa curiga. Seolah rasa curiga adalah selaput pembatas antara manusia satu dengan manusia lainnya. Tidak terkecuali saya yang curiga dengan pertanyaan Hartomo waktu itu. Hanya satu dalam pikiran saya. Hartomo cuma berniat mengobrol tanpa pernah ada maksud mencarikan jalan keluar yang terbaik. Ahh begitukah hidup? Sudah mahalkah harga sebuah kepercayaan? Bahkan antar sahabat pun?

"Yu naik angkot bareng yook! Aku mau pulang ke Ngawi soalnya,entar kita jalan dulu sampai perempatan pos polisi Tugu". "Oke Mbah dengan senang hati", langsung saja saya menyetujui ajakan dia. Hitung-hitung buat mengurangi suntuk di siang ini. Bukan masalah ongkos angkot yang bayar Mbah Kung sih. Namun lebih ke arah mencoba mencari titik terang. Agar semua bebang terasa ringan. Kita bisa ngobrol hal-hal yang menarik. Musik. Bahan ini tak akan pernah ada habisnya jika kita membahas dan memperbincangkannya. Sebab dunia seni secara global selalu mengalami perkembangan dalam bentuk mencipta dan mempersembahkan bagi para penikmat seni itu sendiri. Termasuk musik. Bicara tentang nada dan irama dengan Mbah Kung bak mengajaknya untuk pulang. Ya musik adalah rumahnya, ada kerinduan yang tiada  terperi baginya. Jika, menyangkut soal musik. Jadi ketika berhadapan langsung dengan Hartomo alias Mbah Kung usahakan musik jadi menu utama topik pembicaraan. Tapi juga tak lupa kopi dan camilan sebagai pelengkapnya.

Cerita dan obrolan kami terus berlanjut saat melintas di trotoar jalan Jenderal Soedirman. Namun ketika saya ajukan satu pertanyaan, "Mbah kok tumben pulang ke Ngawi hari ini (rabu) bukan sekalian sabtu besok?". Hartomo tak juga menjawabnya. Masih enggan untuk mengutarakan : dalam rangka apa kok pulang? Dia cuma berkata, "entar aja dech tak kasih tau", "eh Yu mampir ke kos'tan dulu ya? Sekalian kamu lihat si Didi beneran sakit atau cuma alasan buat absen ke sekolah hari ini", lanjutnya kemudian. "Oke atur aja dech Mbah, situ kan yang punya hajat", sahut saya seraya menepuk pundaknya.

Kamar kost Hartomo terletak di ujung paling selatan menghadap timur. Sedangkan Didi malah kebalikannya. Walaupun sama-sama menghadap arah matahri terbit. Ah dasar Didi. Bicara soal dia seolah tak akan ada habisnya. "Dan inikah alasan dia lebih memilih tinggal di kost-kost'an daripada kumpul bareng kakak dan suaminya?" Tanya saya dalam hati. Sebab jika menilik tentang status dia di kota ini juga lucu juga sih. Memang benar adanya dia berasal dari Indramayu. Namun sebenarnya ada kakaknya yang tinggal di kota ini. Bahkan bekerja di salahsatu bank swasta, (namun sekarang bank itu telah berganti nama). Di rumah kakaknya sebenarnya juga ada kamar yang sangat layak disinggahi. Lengkap dengan tv dan tape. Kalau mau nyuci pakaian tinggal nyalakan mesin cuci. Itupun dikerjakan bibi yang bekerja sebagai tukang cuci di rumah tersebut. Tanpa harus mengucek sendiri seperti yang dia lakukan di kost-kost'an. Tapi apa boleh buat. Kepuasan hidup seorang remaja tak selamanya dapat diukur dengan tersedianya  fasilitas berkelas mewah. Didi lebih memilih jalur sendiri. Menjalani kehidupan di kost-kost'an. Jika sewaktu-waktu ingin bolos tinggal tulis surat titip ke Hartomo. Beres. Tanpa harus repot menjawab pertanyaan dari kakaknya, tentang alasan kenapa dia tidak berangkat ke sekolah. Seperti yang dia lakukan siang ini. Atau mungkin karena tinggal di rumah sang kakak ada semacam perasaan sungkan atau apalah. Terhadap suami dan mertua kakaknya?

Hidup memang selalu ada kejutan ketika kita menjatuhkan pilihan terhadap hidup itu sendiri.

Jika hidup itu untuk dinikmati, pasti ada hal-hal menarik yang akan menjadi cerita.
Bahkan cerita itu akan abadi. 
Walaupun yang menjalani hidup itu telah mati dan terkubur dalam tanah...

Dan. Ada hal menarik ketika di kost'an, takdir mempertemukan dia dengan orang-orang yang memiliki kesamaan prinsip.

Setiap manusia satu dengan manusia lainnya pasti memiliki benang merah penghubung. Hingga timbul rasa saling kecocokan untuk saling berinteraksi. Didi memang tidak begitu suka dengan musik. Tidak seperti Mbah Kung. Namun karena keduanya sama-sama anak kost dan tinggal di bawah atap yang sama. Akhirnya jadilah sahabat karib. Dan memang nasib telah mempertemukan mereka dalam satu lingkungan kelas yang sama saat sekolah. Sedangkan saya dengan Didi punya kesamaan hobi yaitu sepakbola. Walaupun saya tidak mahir memainkan olahraga tersebut, toh itu bukan penghalang buat kami berteman.

Didi gemar membaca tabloid olahraga yang terbit dua kali dalam seminggu. Hampir tak pernah ketinggalan dia berita olahraga terutama sepakbola dalam kurun waktu seminggu. Dan entah ini kebetulan atau memang sudah takdir untuk saya dari Tuhan Yang Maha Kuasa. Ternyata berteman dengan Didi banyak manfaatnya ketika menyangkut tentang pengetahuan dan berita sepakbola. Sebab dengan begitu saya bisa pinjam/numpang membaca gratis. Bukankah ilmu tidak harus membayar dalam usaha untuk mendapatkannya? Dia salahsatu penggemar klub Inter Milan dan Manchester United. Poster David Beckham terpampang menempel pada dinding kamar kost'nya.

Ah Didi ternyata pandai juga beralasan agar bisa aman tidak masuk sekolah hari ini. Pada umumnya orang yang sakit atau dalam kondisi badan tidak fit. Di samping lemah tentu juga enggan mengonsumsi makanan atau minuman yang jadi larangan/pantangannya. Namun hal demikian tampaknya tak berlaku pada saat ini bagi Didi. Dalam ijin ketidak hadirannya ke sekolah hari ini ia tuliskan keterangan bahwa : "dikarenakan sakit, harap dijadikan maklum adanya". Kata Hartomo menambahkan, "Didi lagi sakit  Bu Ima", walikelas cuma manggut-manggut mendengarkan  penegasan dari sobat karib Didi itu. Dengan memasang ekspresi seseriusnya serta tak ketinggalan membetulkan letak kacamata yang sebetulnya dalam keadaan baik-baik saja. Begitulah Hartomo. Kembali ke cerita Didi. Sementara Mbah Kung masih sibuk menyiapkan buku pelajaran buat besok. Sebab rencana besok setiba dari Ngawi dia langsung meluncur ke sekolah. Tanpa mampir ke kost'an dulu.

Tapi seketika itu juga bayangan tentang keadaan Didi menghilang begitu saja. Apa yang ia tuliskan dalam surat ijin itu mendadak lenyap dari pikiran saya. Dengan nikmatnya dia tengkurap sementara, tangan kirinya menahan dagu. Telunjuk dan ibu jari tangan kanannya menjepit pena yang ujung tangkainya dia apit dengan bibirnya. Bantal dia pakai untuk menyangga dada dan kedua lengan. Tepat di depan pandangan matanya tabloid khusus TTS (Teka-Teki Silang) untuk bulan ini. Kalau tidak salah Maret. Samping kiri kasurnya yang memang nyaris bersinggungan langsung dengan lantai, andai tak ada perlak untuk melapisi. Adapula es teh yang menyisakan setengah gelas. Tampak bulir-bulir hasil pengembunan di permukaan yang bening itu. Tak lupa kepulan asap dari sebatang Marlboro  yang terbaring di bibir asbak berbahan aluminium. Bentuknya segitiga.

Gayanya bak seorang pemikir, lagaknya seolah menjadi pemecah persoalan. Bahkan tidak jarang Didi harus mencari jawaban atas TTS tersebut di berbagai sumber. Dengan bertanya pada teman, membaca buku, koran, asal jawaban itu ketemu. Padahal kalau menyangkut soal pelajaran dia tak begitu antusias. Tapi begitulah manusia cara mereka dalam memperdalam ilmu dan pengetahuan berbeda-beda. Tanpa tedeng aling-aling pun saya mencoba mencibir Didi. "Ah dasar tukang tipu, bikin alasan palsu. Ati-ati aja Di kalo entar sampai sakit beneran". Dia cuma menoleh sebentar lalu kembali pada lembar soal TTS seolah itu adalah ujian kenaikan kelas. Tanpa ada kesan rasa bersalah, "ya yang namanya males mau diapain aja juga males Yu", "tumben-tumbenan Yu kamu pulang jalan kaki ini malah bareng Mbah Kung lagi?" Malah dia balik mengintrogasi saya. Setelah tahu tentang keadaan sepeda saya dia manggut-manggut.  "Di kok tumben pula Mbah Kung pulang ke Ngawi hari rabu. Bukan biasanya malem minggu?" "Ada masalah yang harus dibereskan dalam waktu dekat ini boy, paling lambat dua hari setelah ini", jawab Didi. Masalah apa sih?" Rasa ingin tahu saya jadi membuncah ketika menyangkut bila ada pernyataan tentang masalah atau beban. "Biasalah, apalagi kalau bukan doku, duit, fulus", "eh mending ke sini bentar Yu kamu tak kasih tau sebab ga' enak kalo keras-keras", lanjut Didi. Saya pun bergegas mendekat dan memasang pendengaran cermat-cermat. "Ibu kost nagih sewa kamar buat bulan ini dimajukan waktunya, kemarin dia bilang pada kita-kita yang nge-kost di sini waktu kita lagi asik nonton TV bareng, 'mas-mas  berhubung besok minggu ibu mau pergi ke Surabaya jadi uang kost harap dibayar dulu ya paling lambat hari jum'at, sebabnya kemungkinan ibu sekeluarga agak lama di sana, tiga hari', wah bener-bener bikin kita pusing Yu". Begitulah keterangan dari Didi. Hingga membuat saya tahu alasan Hartomo untuk pulang.

"Eh Yu tapi awas lho ati-ati kalo jalan bareng Mbah Kung", sebuah peringatan yang beberapa waktu lalu dia sematkan di telinga saya. "Emang ada apa?" "Udahlah pokoknya ati-ati aja, jaga jarak jangan terlalu dekat atau sejajar dengan Mbah Kung posisi kamu pas lagi jalan". "Jangan dengerin Didi Yu, udahlah percuma ngobrol sama dia buang-buang waktu. Mendingan berangkat sekarang yo". Dari arah selatan Hartomo keluar dari kamar sambil menguci pintu. Ternyata dia dengar apa yang kami bicarakan. Bergegas dia hampiri saya lengkap dengan tas punggung berisi buku pelajaran mata pelajaran esok hari.  "Di titip kunci ya, awas jangan macem-macem waktu buka kamar ku trus jangan sampai ada yang berantakan kalo kamu ngambil barang ku". "Ah lagak nya kaya' di kamarnya segala macam barang tersedia aja", tukas Didi yang agak tersinggung dengan guyonan Hartomo. "Udahlah pokonya titip kamar ku ya". Sekali lagi Hartomo menghardiknya. Dan itu jadi kalimat terakhir siang itu untuk si Didi. Sebab sejurus kemudian saya dan Hartomo masih ada misi yang lebih penting daripada debat tanpa arah melawan Didi.

Saya dan Hartomo bergegas meninggalkan Didi. Remaja asal Indramayu itu kini menikmati dunianya sendiri, dalam dunia yang tergambar dalam kotak-kotak. Tersusun mendatar dan menurun, yang masing-masing kolm menyimpan misteri unik dan menarik. Saling berkaitan. Seolah merupakan rangkaian jalan berliku. Dalam setiap jalan terdapat pintu yang terkunci. Kita harus mampu membuka masing-masing jalan. Sebab ada unsur keterkaitan satu dengan yang lainnya.Ya itulah si Didi yang gemar menyibukkan diri dengan mengisi TTS.

Sekarang Hartomo dan saya kembali menyusuri trotoar jalan Jenderal Soedirman menuju perempatan tugu. Sesuai rencana awal menggunakan jasa angkutan umum kota ini. Walaupun dengan tujuan yang berbeda toh nantinya angkutan yang kami tumpangi masih tetap sama. Berletter B. Hartomo ke halte Rajawali Sleko, kemudian dia lanjutkan dengan menggunakan bis jurusan Solo atau Jogja dari arah Ponorogo. Bisa juga yang dari Surabaya tanpa singgah ke kota Reog tersebut. Alasannya cukup bisa diterima akal sehat. Bis antar kota antar propinsi biasa menarik tarif lebih rendah daripada bis kecil yang cuma jurusan Madiun-Ngawi. Siasat ini terbukti lumayan ampuh menyiasati pemborosan, dengan begitu secara tidak langsung dia juga belajar hidup dengan program, 'hemat biaya', yang entah sejak kapan slogan itu didengung-dengungkan hingga sekarang oleh semua pihak.

Suasana siang yang masih sama. Kemarau seperti yang kemarin, tempo hari, kemarin hari, lusa kemarin. Sudah kebiasaan musim kemarau di kota ini selalu diiringi desir angin menyapu wajah. Menghasilkan perpaduan antara panas dan angin yang seringkali membawa serta debu.  Fiuhh angin berhembus membawa hawa panas tepat menuju ke arah wajah. Dengan tipe kulit kering seperti saya, merasakan efek perpaduan antara panas, angin, dan debu jelas-jelas menyiksa. Kulit wajah terasa tertarik-tarik. Di sinilah saya menyadari betapa tak berdayanya dihadapan alam semesta.

Kami masih terus berjalan dengan langkah yang terkesan santai. Tanpa ada tanda-tanda ingin melekaskan ke tujuan dengan segera. Sambil berjalan kami bercanda, mengobrol ngalor ngidul. "Yu ikut ke Ngawi yok,!"  Disela-sela obrolan tiba-tiba Hartomo mengajak saya ke rumahnya. Ajakan itu hanya mampu membangunkan ingatan saya. Tanpa ada respon menyetujui ajakan tersebut. Beberapa minggu lalu saya sempat menginap di rumahnya. Walaupun cuma semalam rasanya cukup terkesan. Bagaimana sambutan ibu dari sobat saya itu. Ketika pagi sebelum subuh tiba, ibunya Hartomo ternyata sudah bangun. Menyibukkan diri dengan kegiatan pagi. Ketika penghuni rumah yang lain masih terlelap tidur, ibunya Hartomo malah sudah menjerang air, menyiapkan sarapan. Lalu setelah semua dirasa beres baru membangunkan kami. Saya tidur di kamar tengah sedangkan Hartomo tidur di kamar tidurnya bagian depan. Berdampingan dengan ruang tamu. Memang sungguh beruntung memiliki teman seperti Hartomo. Ketika menginap di rumahnya tak perlu pusing tentang tempat untuk tidur. Kamar tersedia banyak.

Keberuntungan akan berlanjut ketika pagi menjelang. Seusai mandi dan tubuh masih menyisakan rasa dinginnya air. Bagaimana air di rumah Hartomo tidak dingin. Jika menilik tentang ukuran bak mandinya yang super besar. Dua meter persegi kira-kira luasnya. Kedalaman bak mandi yang berbentuk kotak persegi panjang nyaris sejajar dengan dada orang dewasa. Mampu menampung volume air yang meruah. Jadi dapat saya ambil kesimpulan bahwa penyebab dinginnya air di kamar mandi rumahnya Hartomo. Bahwa : kemungkinan besar itu adalah air tandon, air yang sudah menginap. Rentang waktu air di dalam baknya lebih dari satu hari. Berrrrrrrrrrrrrrrrrrr, dingin langsung menyergap tubuh. Namun semuanya akan terbayar tuntas ketika saya mendapati nasi goreng di meja makan. Lengkap dengan telur dadar yang sengaja dipersiapkan sebagai lauk oleh si tuan rumah. Untuk tamu yang lumayan tak tahu malu ini. Dan yang paling membuat saya jadi lahap menikmati nya di samping rasanya enak dan gurih. Nasi goreng buah karya ibu nya Hartomo tak memakai saos untuk menjadikan warnanya merah. Namun warna merah itu tercipta karena pengaruh dari cabenya. Ah, menu favorit ini tak akan pernah aku sia-siakan. Saking bernafsunya saya menyantap habis jamuan pagi ini. sarapan kami tutup dengan ritual minum kopi racikan dari ibu nya Hartomo pula. Benar-benar pagi yang sempurna. Pembuka hari beberapa waktu lalu yang akan terus terngiang dalam ingatan saya.

"Ya sebenarnya pengen banget Mbah, tapi mau gimana lagi coba, cucian ku lagi banyak di rumah. Udah terlanjur tak rendam tadi pagi, jadi ga' enak dong kalo ga' segera dicuci. Baunya mbah", alasan yang memang sebenar-benarnya keluar dari bibir saya. "Ya udahlah kalo gitu", sahut Hartomo. Saya juga merasa tidak enak saja jika harus terlalu merepotkan keluarga Hartomo. Lagipula kepulangan nya kali ini disebabkan adanya masalah yang sifatnya urgent, menyangkut soal uang kost. Kalau saya nekad ikut serta ke Ngawi secara otomatis akan terjadi pemebengkakan biaya. Iya kalau pas waktu itu ada cadangan uang berlebih di tabungan keluarga nya. Kalau tidak. Ah...

Masih tentang situasi trotoar jalanan ini saya ingin bercerita.

"Sepuluh ribu tiga, silahkan dipilih-dipilih barang baru semua. Bapak-bapak, ibu-ibu, mbak-mbak".

Tak terasa sampailah kita di depan pasar besar. Deretan meja-meja berjajar saling berdempetan mepet dengan dinding pembatas trotoar. Para penjual buah, pakaian, serta perabotan lainnya dengan suara lantang menawarkan barang dagangan. Tak ketinggalan juga ada penjual pakaian dalam lengkap. Mulai dari celana dalam lelaki dan perempuan segala jenis usia. Warna-warni pula meawarkan pilihan sesuai selera. Ah tak ketinggalan bra juga terpajang. Tumpukannya menggunung namun terkesan rapi. Inilah awal malapetaka untuk saya di siang ini.

Masih seperti suasana yang sebelumnya. Tetap saja ramai trotoar di kota ku. Namun justru di sinilah awal dari saya mengerti tentang apa yang diungkapkan Didi mengenai tabiat Hartomo yang sebenarnya. Tiba-tiba saja tanpa tedeng aling-aling. Menyeret saya. Membawa di salahsatu ruang kosong yang tersisa depan meja. Tepat berhadapan dengan penjualnya. Berkopiah. Jenggotnya bergerombol, bahasa Indonesia-nya menandakan si penjual adalah orang luar Jawa. Dari aksen dia bicara besar sekali kemungkinan merupakan orang padang.

"Yu katanya mau beli'in daleman buat cewe' kamu", dengan tampang yang serius Hartomo meyakinkan penjual. Agar seolah saya adalah calon pembeli yang positif akan memborong tumpukan barang dagangan di depan saya itu. Sudah itu Hartomo juga berhasil menyahut sebuah bra berwarna menyolok mata. Biru terang. Dan paling apes saya. Keberhasilannya ternyata berlanjut ketika hasil sahutannya itu pindah dan berada di genggaman saya. Saya juga terlalu lambat merespon keisengan Hartomo. Tidak cepat menangkis ini malah terdiam, terpaku, tanpa bisa bergerak seketika itu juga. Mungkin efek dari sebuah keterkejutan yang datang secara tiba-tiba. Seolah ada medan magnet dahsyat menarik saya agar tetap terpaku. Huh! Sial memang teramat sial. Semua tampaknya terlambat. Penjual langsung menanggapi apa yang dikatakan Hartomo. "Iya silakan pilih mas, itu juga bagus warna biru cocok buat cewe' abg. Temen mas emang jago kalo pilih barang", sambil menunjuk Hartomo penjual menggelontorkan rayuan-rayuan mautnya. Hartomo kali ini tak bereaksi, mungkin sudah menyadari bahwa saya telah terperangkap dalam permainannya. Sekali lagi saya benar-benar merasa bak seorang pemuda yang teramat lemah dan bodoh. Hingga beberapa waktu masih tak menyadari atau tak tahu harus berbuat apa. "Oh God help me now, this is one of the many black holes in this world?" "Hingga tak mampu saya keluar dari jebakan ini, give me strengh to get out of this place". Sementar Hartomo malah kabur meninggalkan saya yang terjebak di tempat itu. Layaknya  berada pada sebuah lubang hitam. Saya hanya butuh sedikit kekuatan untuk bisa keluar dari sini.

Mungkin inilah salahsatu kelemahan saya yaitu, sulit keluar ketika berada dalam situasi yang kurang menyenangkan. Benar-benar membosankan. Hari memang tak bisa  disangka. Kejadian apa yang akan menimpa diri kita. Semua itu rahasia Tuhan di atas sana. The secret of the God. We only human just live it. Namun pada akhirnya saya bisa juga keluar dari jebakan itu. Setelah berhasil mengeluarkan segenap kesadaran dan kekuatan yang ada. "Ga' pak temen saya bohong, cuma pengen ngerjain saya". Tanpa menunggu jawaban si penjual saya bergegas menyusul Hartomo yang duduk di depan toko sepatu Manies. Menunggu reaksi saya. Sudah barang tentu dengan cengengesan, cekikikan. Ketika mendapati saya dengan muka yang tak keruan itu. Sekadar senyum culas tersungging di bibirnya tanda kemenangan berada di pihaknya. Ratusan kata maki dan umpatan samasekali tak memengaruhi derai tawa nya waktu itu. Malah semakin menjadi. Ahhhh......

Hingga di dalam angkot pun kesan dari kejadian itu belum juga hilang begitu saja. Masih juga tersisa cekikikan darinya.

...........................................

"Siapa menabur angin pastinya akan menuai badai..."

Entah sudah berapa ratus kali rangkaian kalimat sakti itu saya dengar. Namun entah kenapa hanya sebagai kalimat yang mampir tanpa ada kesan membekas pada saya. Setidaknya pada apa yang saya kerjakan sehari-hari. Saya tampaknya masih perlu belajar banyak pada tumbuh-tumbuhan. Pohon mangga akan selamanya berbuah mangga. Begitupun padi, jagung, apel, dan sebagainya.  Bukankah apa yang kita kerjakan saat ini, detik ini, hari ini akan ada pengaruhnya di kemudian hari?

Berawal dari Ibu Sri Hariasih selepas mengajar matapelajaran ekonomi. Dia bertanya pada semua murid di kelas kami, "di kelas sini siapa ya yang bisa bikin figura?  "Kalau ada tolong dong saya dibikinin", tutur beliau lagi. Seisi kelas kami 1C tidak ada yang menjawab atau mengacungkan jari tangannya. Semua terdiam tanpa ada yang menyahut. Entah memang benar tidak ada yang bisa bikin figura atau ada namun tidak mau direpotkan dengan kegiatan semacam itu. "Nanti saya ibu ganti kok biaya pembuatannya, tenang aja anak-anak", kembali ibu guru  berjilbab itu berkata. "Lho ibu masa' ga' tau kalau si Feri murid 2B bisa bikin figura?" "Minta tolong sama dia ajalah bu, dijamin beres". Entah iblis macam apa yang merasuki otak saya waktu itu. Hingga berani mengeluarkan kalimat petunjuk sekaligus kalimat penjerumus bagi Feri di hari-hari ke depan. Sebab pada akhirnya bu Sri meminta nya untuk membuatkan figura yang bisa muat untuk foto atau poster ukuran 24 R. Feri pun juga tak bisa begitu saja menolaknya. Mengingat si pemesan tak lain adalah walikelas nya sendiri. Mau tak mau apapun resikonya dia harus siap menanggungnya. Hingga pada istirahat jam kedua Feri menemui saya dan sambil mencak-mencak penuh dengan kedongkolan. "Yu wah kamu keterlaluan tadi bu Sri bilang sama aku, 'fer kata si Bayu kamu bisa bikin figura tho', kok tego-tegomen sama aku?"  "Lah trus gimana kamu terima?" Tanya saya tanpa ada kesan bersalah pada Feri. "Lha piye maneh yang minta walikelas masa' mau tak tolak". "Ngono kuwi yo omongo terus terang kalau emang ga' bisa bikin", saya jadi sok bijak waktu itu. "Ora masalah terus terang, bukan pula soal kejujuran ini masalah ga' enak menolak permintaan walikelas, lagipula kamu juga sih bilang gitu. Jadinya kan bu Sri percaya kalau aku memang bisa bikin figura".

Akan tetapi segala persoalan masih bisa teratasi. Kita manusia punya akal dan pikiran agar bisa memecahkan segala tantangan yang ada di dunia ini. Walaupun harus dengan cara yang tidak semestinya. Tidak seperti yang dibayangkan orang lain. Namun bukan berarti harus curang lho. Boleh lah kita berbohong asal dalam kebohongan itu ada unsur membantu orang lain. Dengan modal kepercayaan diri akhirnya Feri mendapatkan ide untuk memecahkan masalah itu. Yaitu dengan membeli langsung sebuah figura sesuai pesanan bu Sri di jalan Kutai. Itupun setelah melalui skenario pemikiran yang lumayan panjang. Mengalami proses perenungan yang memakan waktu tiga hari. Setelah menghitung berapa banyak biaya beli kayu, kaca, serta tenaga lalu membandingkannya dengan harga membeli langsung jadi dari penjual terdapat selisih yang signifikan. Lebih berhemat ongkos serta tenaga makan Feri memilih untuk membeli di jalan Kutai. Itupun jugam ngajak saya buat bawa figura berukuran lumayan lebar itu. "Lha salahmu pake acara bilang ke bu Sri aku bisa bikin figura, sekarang ya bantu cari dan bawa".

Seandainya kejadian itu tak pernah ada mungkin saya juga tidak akan menerima balasan yang sedemikan nahas ini.

Hari masih terlalu pagi untuk kami usik dengan perbuatan-perbuatan ceroboh. Masih pula otak terasa segar buat belajar. Jadi buat apa pula bikin keributan? Suasana tenang mengisi pagi itu untuk sebuah acara di kelas kami dengan judul 'matematika' yang memang tepat berada di awal waktu. Ketika otak masih segar, oksigen juga belum terlalu banyak terkontaminasi dengan senyawa karbon. Tenaga masih pula fit sebab energi yang dihasilkan oleh sarapan pagi belum banyak terpakai. Kami masih serius dan tenang kosentrasi. Memerhatikan pak Sumadi menerangkan rumus-rumus pemecah teka-teki ilmu hitung.

Saya waktu itu tak duduk sederet dengan Hartomo yang ada di bangku paling depan. Saya lebih memilih duduk di deretan bagian tengah. Sebab ada sebagian tugas rumah biologi yang belum rampung semalam. Biasa karena penyakit ngantuk menjadi penghalang. Biasa duduk di bangku paling depan kini harus berpindah ke tengah. Apa yang terjadi?

Apakah sudah hukumnya, bila seseorang meninggalkan tempat yang biasa dia singgahi untuk berpindah ke tempat lain. Akan lebih mudah (sering) mendapatkan cobaan? Bagaimana bila itu menimpa diri saya?

Derap suara sepatu kian mendekati kelas kami 2C. Secara tegas menandakan akan memasuki ruang kelas kami. Tiga perempuan yang nyaris hampir sama postur dan tinggi badannya. Ternyata adalah wakil dari anak SMEA. Tapi entah ada apa, saya tak tahu urusannya. Setelah meminta ijin untuk memasuki kelas kami pada pak Sumadi selaku pengajar saat itu. "Assalamu'alaikum..Wr. Wb". Sekolah kami tidak mengenal budaya salam seperti selamat pagi, selamat siang, selamat malam. Setiap pertemuan di lingkup sekolah kami harus diawali dengan salam Assalamu'alaikum dan wajib dijawab oleh yang mendengar Wa'alaikumsalam itulah budaya kami. Kata bapak Nuryanto, "itu adalah do'a bagi kita semua di awal perjumpaan", saya masih mengingat pesan itu. Jadi kami tidak heran jika ada salam lain selain yang di atas. Pasti sangat besar kemungkinan tidak akan dijawab oleh pihak-pihak guru. Apalagi bila yang mengucapkan salam selain itu adalah murid. Itu sudah takdir sekolah kami didirikan.

Setelah kami  menjawab salam para murid-murid SMEA akhirnya mendekat ke arah pak Sumadi duduk. Guru senior yang berusia lanjut. Termasuk dalam golongan gaek bahkan sangat gaek. Bila menilik semangat mengajarnya. Tak kalah lantang dengan guru muda ketika memberi penjelasan tentang matapelajaran. Bagi beliau mengajar adalah pengabdian guna mewujudkan cita-cita bangsa. Yaitu mencerdaskan kehidupan rakyatnya. Walau tak pernah semua itu diungkapkan olehnya melalui lisan. Namun saya cukup paham jika memerhatikan caranya memberi penjelasan pelajaran matematika. Bagi banyak orang matematika mungkin adalah momok. Namun tidak demikian baginya. Matematika baginya layaknya penuntun jiwa, otak, dan cara berpikir seseorang dalam menyikapi kehidupan. Baginya matematika akan memungkinkan setiap orang berpikir secara realistis dalam menjalani kehidupan. Matematika pula yang akan membantu seorang manusia untuk berpikir menggunakan nalar.

Tak berselang lama para siswi SMEA itu meninggalkan kelas kami. Salahsatu diantaranya membawa secarik kertas yang barusan tadi dia bubuhkan sedikit catatan entah apa isinya. Saya tidak terlalu memperhatikan. Sebab ada tugas yang belum rampung di atas meja saya. Ah lagi-lagi korupsi waktu jadi budaya negeri ini. Dan sialnya pelakunya adalah saya sendiri. Paling sial lagi dari ketidakperhatian saya dengan kejadian tadi akhirnya berimbas keapesan pada saya.

Dua jam mata pelajaran Bapak Sumadi berakhir pada pukul 08.15 WIB. Kini berganti bu Siti mengisi dengan Antropologi yang akan berdurasi sama dengan matematika. Bedanya waktu mengajar bu Siti harus terpangkas jeda istirahat 15 menit. Sebelum akhirnya dilanjutkan setelah istirahat.

Waktu berjalan berpacu dengan udara yang terus merambat. Kami semua cuma bisa menjalani tanpa ada daya dan upaya untuk sedetik saja menghentikan laju waktu. Tak terasa waktu istirahat tiba juga. Limabelas menit yang berarti buat kami guna menyeimbangkan seluruh pikiran dan energi yang lumayan agak lelah. Dihajar 90 menit oleh matematika. Lalu dilanjutkan dengan pelajaran yang lebih menekankan pada pengenalan khazanah budaya nusantara ini. Ah semua aktivitas terkadang membuat kami pening. Tapi apa boleh buat jeda istirahat meregangkan saraf hanya berusia 15 menit tak lebih. Kami harus kembali memasuki sebuah ruang dengan segala macam aktivitas belajarnya. Bernama kelas.


Hidup memang pernuh dengan kejutan. Walau kadang kejutan itu terasa menyiksa

Kejutan itu datang dan munculnya selalu tiba-tiba. Bahkan cenderung mempunyai sifat mengagetkan bagi yang dikejutkan. Anak SMEA yang tadi sempat sedikit mengganggu jalannya pelajaran matematika kini salahsatu diantara mereka hadir lagi di kelas kami. Perempuan rambut sebahu lurus agak jangkung. Tentang nama saya tak mengetahuinya. Malah kali ini dengan rasa percaya diri yang tinggi menyebutkan nama-nama untuk segera berkumpul di lantai dua. Ruangan SMEA. Yang lebih mengejutkan lagi ada nama saya terucap dari mulutnya. Bukan kepalang kagetnya saya. Bersama Lilis, Ika, Moh. Atiq, dan Samsul, saya bergegas menuju tempat yang dimaksud. Saya tak pernah tahu tujuan pemanggilan ini. Hanya menyisakan tanda tanya besar. Dari sekian anak di kelas kami yang terpanggil cuma saya yang berkemampuan pas-pasan soal prestasi belajar. Sementara lainnya adalah jagoan yang selalu masuk rangking lima besar. Sedangkan saya naik kelas saja sujud syukur dan senang bukan kepalang. Lalu kenapa saya sampai terseret sejauh ini. Ada apa gerangan di balik semua hal yang tak terduga ini?

Pertanyaan-pertanyaan itu terus mengikuti setiap langkah saya. Detap kaki saya saat melewati koridor antar kelas SMEA menyimpan misteri yang ingin segera terjawab.

Ahhh sial memang teramat sial nasib saya. Apes masih juga menaungi kisah hidup saya. Apakah sang Dewi Fortuna tiada pernah merasakan iba terhadap saya? Kenapa semua ini harus terjadi. Saya yang sama sekali tidak menguasai pelajara bahasa Inggris dinobatkan menjadi salahsatu wakil dari kelas kami. Untuk mengikuti sebuah acara mengeluarkan usulan demi kemajuan sekolah dalam bahasa Inggris. Besok pagi di Kwartir Cabang Madiun yang waktu itu bertempat di utara stadion Wilis. Apakah yang mengusulkan saya untuk mengikuti acara tersebut termasuk orang yang tidak bisa menyeleksi. Paling sial lagi ketika saya berencana tidak ikut acara tersebut. Pak Nuryanto mengancam akan memberikan nilai lima pada raport saya untuk pelajaran yang dia bimbing, PPKn. Begitu banyak keapesan merundung saya namun ini salahsatu yang paling tragis.

Seketika langit bergelayut mendung, tak ada keceriaan yang tergambar dari raut wajah saya. Semua berubah total bak langit gelap disertai kilatan petir dan gemuruh guntur. Saya hanya pasrah. Berharap ada keajaiban yang mau menghampiri. Apakah Dewi Fortuna kali ini mengasihani saya? Atau mungkin Dewi Fortuna tidak akan pernah menancapkan busur panah keberuntungan untuk saya.

Duduk. Hanya diam menyandarkan diri pada bangku yang peliturnya mulai mengelupas ini. Sembari menggigit ujung tangkai pena saya. Tak berbuat apa-apa. Ketika semua siswa berbondong-bondong menjalankan shalat Duhur di mushola saya hanya bergeming. Kaki terasa berat. Jangankan bangkit untuk duduk tegakpun saya enggan. Energi seperti terkuras habis. Pikiran hanya berfokus pada siapa yang tega-teganya berbuat demikian. Menjebloskan saya dalam kubangan yang sama sekali tidak pernah saya gali. Namun tiba-tiba saya terhenyak. Hampir tak percaya saya tepuk pipi saya, pla, plak, plak. Ternyata bukan mimpi. Dari arah belakang, "Yu udahlah tenang aja biar ntar aku buatin buat ide yang kamu sampaikan di podium besok". "Bener Ka, awas lho jangan bohong", "tentang kebersihan lingkungan sekolah ya, termasuk toilet yang joroknya minta ampun itu". Respon saya atas pernyataan tersebut. "Oke deh, beres".  Singkat saja Ika menyahut.

Untung ada Ika yang bersedia membantu. Coba kalau cewe berpipi tembam dan punya ciri khas berwarna semu merah jagung di ujung rambut bagian depannya itu tak mau membantu. Mau jadi apa nasib saya esok hari. Ika itu salah satu perempuan di kelas kami punya penampilan cuek. Bergaya agak sedikit lazzy ketika berjalan. Namun dibalik cara berjalannya yang terkesan malas itu dia termasuk cekatan dalam berpikir. Paling jago bahasa Inggris. Pernah suatu ketika dia men-translet lagu 'Semua Tak Sama' dari Padi ke dalam English version. Itupun masih dengan penempatan suku kata yang pas dengan versi aslinya. Tanpa mengubah isi dan maksud lagu tersebut tranlset-an dari dia untuk lagu tersebut tergolong sukses.

Pendopo Kwarcab Madiun jadi saksi sepanjang pagi dan siang itu. Ada perasaan senang sebab satu masalah teratasi, namun masalah lain kini menghantui diri saya. Mengenai pengucapan lafal berbahasa Inggris. Belum lagi bila nanti ada yang menanyakan tentang masalah apa yang saya sampaikan di podium. Bagaimana saya akan mampu menjawab jika maksud pertanyaannya sendiri saya tidak mengerti.

Bu Lestari selaku pengajar bahasa Inggris di kelas kami juga hadir. Dengan pandangan memicing tertuju tepat ke arah saya duduk. Seakan tak percaya tentang keberadaan saya di sini. Sebenarnya maklum juga dia berpikiran seperti itu. Toh dia pastinya hafal betul tentang kualitas saya di pelajaran yang dia bimbing. Saya menangkap dua kemungkinan kenapa dia bersikap seperti itu. Memancarkan ketidak percayaan. Pertama saya di sini cuma akan mengacaukan acara. Sedangkan alternatif kecurigaan dia yang kedua mungkin dia akan bertanya pada dirinya sendiri, 'bagaimana si bayu mampu membuat opini dalam bahasa Inggris?' Syak Wasangka dari bu Lestari sah-sah saja, jika mengingat kedongkolan dia ketika mengajar kami. Terutama saya. Beliau pernah bertanya pada kami yang kesulitan memaha,i English. 'Apa yang membuat kalian kesulitan belajar bahasa Inggris?' "Karena because selalu always dan and tidak pernah never bu", jawab saya spontan yang mengundang gelak tawa seisi kelas. Sekadar guyonan namun mampu membuat gaduh suasana kelas. Seketika itu juga tak pernah ada terbesit kesan baik antara saya dan ibu pengajar.

Tetapi inilah akibatnya. Ketika yang lainnya pada sukses dengan opini dan pendapat yang mereka sampaikan. Saya malah tak mampu berbuat banyak. Lilis teman perempuan saya yang bertubuh tinggi langsing itu. Rambutnya sedikit bergelombang tergerai melampaui bahu. Asal daerah Kare itu begitu lancar dalam pengucapan. Begitu juga Samsul. Si kecil cabe rawit dari kota Kediri itu juga termasuk mahir dalam hal pelajaran bahasa Inggris. Satu-persatu dari siswa SMA, STM, dan SMEA silih berganti menyampaikan pendapatnya. Di podium kecil yang kami bawa dari sekolah. Dapat disimpulkan mereka semua sukses. Begitupun Atiq dan Ika. Untuk Ika masih ada penilaian khusus kalau menurut saya. Pengucapannya benar-benar mantab. Layaknya seorang yang belajar langsung di negeri barat saja. Saya cuma tergeleng-geleng. Sementara yang lain masih terbawa dengan aksen bahasa daerah. Itulah yang unik dari sebuah bahasa. Walaupun mengucap dalam satu bahasa sering terdapat keanekaragaman budaya terbawa. Bahasa merupakan sebuah kekuatan magis. Mampu mempersatukan bangsa, juga mampu memecah sebuah bangsa. Bahasa selain  sebagai penghubung juga bisa menjadi simbol dari mana seorang anak manusia berasal.

Saya akhirnya tersadar bahwa inilah akibatnya ketika kita seringkali menyepelekan sesuatu. Karena sesuatu itu akan balik menyerang kita dan menertawakan kita. Segalanya kini telah saya pahami dan mengerti. Tentang kejadian di pendopo Kwarcab pramuka Madiun ketika saya berada di podium telah saya lupakan. Walau malu jika teringat itu semua. Tapi ya sudahlah hidup harus terus berjalan. Berjalan dan berjalan.

Ketika saya telah berhasil melupakan segalanya. Tak lagi penasaran dengan siapa yang menjebak saya waktu itu. Kini semua terasa ringan tanpa beban pikiran. Bukankah hidup akan terasa nikmat ketika semuanya telah berjalan lancar. Namun di suatu pagi setelah istirahat saya terkejut dengan pernyataan seorang teman perempuan. Yaitu Rika Gope' bertutur pada saya, "Yu yang bikin kamu ikut ke Kwarcab tempo hari itu adalah Mbah Kung". "Ah masa' sih yang bener aja kamu Pe'?" Saya biasa memanggil Rika dengan sebutan Gope', bahkan nama itu populer di seantero sekolah kami, Cokroaminoto. "Iya bener aku ga' bohong kok, kalau ga' percaya tanya aja sama Siti". Raut muka yang serius Gope' menyiratkan kebenaran sebuah berita. Ditambah pernyataan Siti, "iya Yu aku denger sendiri  waktu Mbah Kung nyebutin nama kamu ke anak SMEA", gadis berambut lurus berkulit kuning langsat, bermata agak sipit itu dengan nada perlahan berkata pada saya. Dari apa yang diungkapkan dua teman perempuan saya itu saya cuma bereaksi, "hufffffffffttttt..........", sambil mengelengkan kepala perlahan.


....................................

"Perihal Mimpi"

Apakah mimpi itu hanya sebuah kembang tidur?
Apakah mimpi itu memang sebuah pertanda?

Seolah pertanyaan-pertanyaan itu selalu menghiasi kisi-kisi hidup manusia. Tak ada seorang manusia di dunia ini yang tak pernah bermimpi. Jika ada yang tak pernah bermimpi selama hayat dikandung badan berarti selama hidup seseorang itu tak pernah tidur.

Anda tidak harus percaya juga tidak diwajibkan untuk tidak percaya. Tentang pernyataan-pernyataan perihal mimpi. Mungkin memang benar adanya bahwa mimpi itu cuma sebuah kembang dari tidur kita. Atau merupakan pertanda apa yang akan terjadi di dunia nyata kita. Melalui alam bawah sadar pertanda itu hadir. Sebegitu rumitkah merumuskan arti mimpi itu. Saya tak begitu memahaminya sebab saya bukanlah ahli nujum. Penafsir mimpi

Suatu pagi. Setelah matahari menyembul menyiramkan sinar keemasan. Saya dan Hartomo duduk berjongkok di sebelah barat warung depan sekolah. Melakukan ritual pagi yaitu : ngopi. Dia bercerita tentang mimpinya semalam. Yang kata dia pada saya, "ngeri Yu mimpiku semalam". "Ah paling mimpi dikejar anjing, gitu aja diceritain". "Sumpah Yu ini beneran aku ga' bercanda", kata dia. Kemudian melanjutkan dengan cerita tentang mimpi semalamnya.

Di dalam mimpinya. Kata Mbah Kung pada saya. "Yu ada orang berpakaian serba hitam atau lebih tepatnya berjudah hitam. Dia datang menghampiri aku dam sambil mengarahkan jari telunjuknya dia bilang ke aku, 'hey Hartomo hati-hati kamu tepat tanggal sembilan kamu akan mengalami musibah dan kesusahan dalam hidupmu', begitulah kata manusia misterius itu pada aku Yu. Wujudnya menyeramkan sebagian dari wajahnya tertutup semacam cadar yang mirip ninja. Cuma kedua matanya aja yang kelihatan". Sambil membetulkan letak kacamata nya dia menghela nafas. Aura wajahnya begitu serius ketika bercerita perihal mimpi semalam. Rasa kopi yang biasanya nikmat menemani pagi Mbah Kung terkesan hambar. Bukan seperti biasanya di pagi-pagi yang kemarin. Tak berfilosofi, hanya sekedar pemenuhan kebutuhan. Tak lebih dari sekedar rutinitas pembuka hari belaka.

Pada akhirnya saya pun sadar bahwa apa yang dikatakan Hartomo perihal mimpinya itu benar adanya. Tak butuh waktu lama semuanya terkuak. Apa arti dari mimpi buruk tersebut. Ketika istirahat jam sembilan pagi. Seperti biasa Mbah Kung paling rajin keluar dari pintu gerbang sekolah yang dijaga mantan tentara veteran negeri ini, Bapak Toyo. Namun karena usia penjaga tersebut telah memasuki renta kami malah keseringan memanggilnya Mbah Toyo. Hartomo begitu akrab dengan si penjaga pintu tersebut. Seringkali obrolan mereka nyambung. Tentang pujian Hartomo pada beliau ketika masa perjuangan melawan penjajah. Juga yang selalu saya ingat Mbah Toyo kerap dan rutin memakai seragam perjuangannya dulu ketika masih berjuang. Lengkap dengan atribut dan lencana yang berpendar tatkala bersinggungan dengan sinar matahari. Dari keakraban itulah ada semacam pemberian hak khusus buat Hartomo dari sang pejuang veteran itu untuk ijin keluar ke warung depan. Walaupun cuma dengan alasan beli es teh. Padahal di kantin dalam sekolah ada, namun Hartomo selalu beralasan, "pengen cari suasana yang lebih seger Mbah", dan terbukalah gerbang itu.

Namun alangkah sial nasib Hartomo waktu itu. Ketika pagi hari bercerita tentang mimpinya pada saya. Belum juga genap sehari usia cerita paginya pada saya. Saat akan membayar sepiring nasi pecel, es teh, dan sebatang rokok. Entah apa sebabnya ternyata dompetnya tak ada di kantong. Alias hilang. Jadi niat untuk membayar dia urungkan sejenak. Sebagai konsekuensi atas kejadian ini akhirnya dengan sangat terpaksa Hartomo menambah daftar nama siswa-siswa sekolah kami yang berhutang di warung itu. Dompet yang hilang yang mengakibatkan manusia harus berhutang. Sedikit ada benarnya mungkin. Tapi dasar yang namanya Hartomo memang ditakdirkan jadi anak yang keras kepala. Tak puas dengan kenihilan hasil pencarian di warung depan tadi. Dia masih menelusuri hingga ke jalan-jalan yang tadi sempat kami lalui.

Di dalam kelas malah tambah runyam urusan. Mulai dari bangku dia dan isi tas nya dia keluarkan semua. Tapi yang saya salutkan Hartomo tak pernah menaruh curiga pada orang lain. Dia tampaknya begitu menyadari semua ini terjadi atas keteledorannya. Tak ada tas di antara kami teman sekelasnya yang dia geledah. Kesimpulannya cuma satu. Dompet itu terjatuh. Tapi di mana. Hanya Tuhan yang tahu. Mungkin jika Tuhan masih berkenan menjadikan dompet beserta isinya itu adalah rejeki Hartomo. Suatu ketika entah kapan pasti kembali. Tapi siapa yang mampu menyadari? Manusia cuma sekedar mahkluk, tak lepas dari ungkapan mengeluh dan mengumpat atas kesialan nasib yang mendera. Tanpa ada sedikitpun pikiran dan prasangka baik pada nasib yang akan datang.

Waktu akan segera berganti. Begitupun nasib juga akan mengikuti kemana waktu akan menggiringnya. Tanpa disangka, tanpa pernah diperkirakan sebelumnya. Ketika kami mulai meninggalkan gerbang sekolah untuk beranjak pulang. Saya menuntun sepeda, Hartomo cuma jalan dengan muka menunduk ke bawah. Dari tatapan matanya jelas ada rasa kecewa pada nasib hari ini. Sebagai teman saya cuma mampu mengikuti langkahnya. Hanya itu yang bisa saya lakukan waktu itu. Itulah cara saya menghiburnya kala siang itu.

Adakah nasib baik akan berpihak pada Hartomo siang ini. Mungkinkah jarum pendulum nasib akan menunjuk tepat padanya? Tak ada yang tak mungkin di dunia ini kecuali menggigit kepala sendiri. Di tengah kegalauan yang teramat sangat. Ada teriakan dari arah warung. Tak asing lagi pasti ibu pemilik warung. Yang rambutnya agak keriting itu. "Mbah Kung ke sini dulu dompetmu sudah ketemu", ibu pemilik warung memang sudah terbiasa memanggilnya dengan julukan Mbah Kung. Mendengar teriakan itu seolah ada energi dari segala penjuru mata angin merasuki raga Hartomo. Matanya berbinar. Hampir tak percaya secepatnya dia berlari memastikan berita dadakan itu. Menghampiri warung.

Ya memang benar adanya dompet itu tadi terjatuh di warung ketika Hartomo makan. Masuk ke bawah meja tertutup berbagai macam perabotan masak warung sederhana itu. Mungkin saking dekatnya jarak antara kursi panjang dengan meja. Jadi tidak menutup kemungkinan dompet Hartomo menyusup ke kolong meja. Ibu pemilik warung secara tak sengaja menemukan barang tersebut ketika mengambil tumpukan piring nasi pas ada rombongan pembeli dari anak STM. Untuk sementara nasib hari ini. Selamat!

Terkadang kesialan akan memancing kenahasan berikutnya. Masih mengenai dompet nya Hartomo. Kali ini bukan di warung depan sekolah. Melainkan ketika nongkrong di rumahnya Feri. Maksud hati ngumpul bareng sama teman-teman. Tapi ini lagi-lagi nasib ketiban apes. Tempat untuk menyimpan uang itu hilang lagi. Kalau menurut analisis saya. Dompet itu terjatuh pas Hartomo dan Didi beranjak pulang ke kost'an. Karena waktu menunjukkan jam sembilan malam maka mereka berpamitan pulang. Hartomo yang gemar pakai celana jeans, secara ukuran saku belakang celana berbahan jeans relatif kecil untuk ukuran dompet nya. Juga seringkali licin. Dompet itu kerapkali naik ketika dia duduk. Teman-teman seringkali mengingatkan. Tapi apa mau dikata? Sifat tambeng Hartomo menjadi penyebab tak digubrisnya saran itu. Akhirnya harap maklum dompet itu jatuh lagi. Beruntung yang menemukan ibunya Feri. Jadi masih kembali pada si empunya.

Lalu dengan sedikit percaya tidak percaya akhirnya saya menyimpulkan. Bahwa dua kejadian itu sudah ditunjukkan melalui mimpinya. Tanggal sembilan yang ada di mimpinya itu sebenarnya hanya perlambang. Bukan makna sesungguhnya. Bahwa ketika Hartomo di dalam hidupnya mulai memasuki jam sembilan kemungkinan besar mendapatkan kesulitan. Termasuk dompet yang jatuh itu.

Dari dua kejadian itu pula akhirnya Hartomo untuk sementara waktu rajin sholat dan membaca surat Yassin. Sepertinya ada yang harus dirubah dalam pola hidupnya.

Benar atau tidaknya hubungan mimpi dengan realita dunia nyata adalah sesuatu yang masih misteri. Yang jelas dari mimpi itu mampu merubah atau paling tidak sedikit mengarahkan dirinya pada yang namanya rajin beribadah.

Lalu apakah dunia mimpi itu juga terus berjalan walaupun kita sedang berada dan menjalani realita dunia yang nyata? Hanya Tuhan yang Maha Tahu................