Thursday, February 23, 2012

"Sebuah Keterbatasan"

Banyak cara manusia untuk menterjemahkan tentang keadaan hati, hidup, serta lingkungannya. Salah satunya dengan menulis. Menuangkannya dalam goresan-goresan. Berupa syair, cerpen, artikel-artikel ringan. Tak jarang pula sering kita jumpai ungkapan-ungkapan itu melalui baris kata, berpadu nada. Di kesempatan kali ini ijinkan saya untuk mengungkapkannya dalam bentuk tersebut. Yang bertajuk "Sebuah Keterbatasan", semoga berkenan dan terhibur kawan..


Untuk Sebuah Hati


Saat mentari menyapa senyumku di pagi hari...


Dan kala bulan mengintai lelap mataku engkaupun


hadir dalam nirwana mimpi...


Reff :


Bentangan jarak engkau dan aku teralir sebuah rindu menggebu...


Mimpi yang mulai mengembang kini ingin kurangkai saat dirimu tak di sana...


Sebuah persinggahan kini kulalui, kutapaki, kupanjati, demi subuah arti...


Jati diri / Hidup ini...


- Dan percayalah diriku hadirkan sejuta damai untukmu...


Tuk menemani langkah-langkahmu yang sepi


meniti kerinduan...


...............................


Guide In Your Sleep


- When I feel by your side, I never want you go.


Every night just every dream we will always together.


- With the moon in the sky I sing a song  for  you.


With my love is never die, I want you to know.


* That's the time don't telling lies, about my feeling to you..


# And if you have been feel the same...


You give me perfect in my life....


forever...


- Please your sleep my blue beach, and painting your of bright.


And when morning till come shine's, you can found white of roses.


- Black and white of my life is come true by yourself.


In my soul I wait you, don't will be anyone...



* That's the time don't telling lies, about my feeling to you


# And if you have been feel the same


You give me perfect in my life


Because my dream is true yourself


Because i will be the saviour...


In you life.....


..............................

Ini Tentang Rasa


- Hati-hatilah dirimu, jika sedang jatuh cinta



Karena panah cita bisa membuat mabuk kepayang


Karena panah cinta bisa membuat kau menghilang


Reff :


* Ini tentang rasa yang tak biasa..


Apa yang kau rasa patilah dia rasa..



Janganlah takut kau akan terluka..


Sebab luka untuk dirasa..


- Siap-siapkah dirimu bisa saja kau terluka


Karena panah cinta bisa membuat hati terluka


Karena panah cinta bisa membuat kau menggila


Reff # 2 :


** Ini tentang rasa yang tak biasa..


Apa yang kau rasa belum tentu dia rasa..


Mungkinkah takut kau akan terluka..


Sebab luka untuk dirasa..


.....................



- In the first time I see you, I want to take you away


To find of better place like heaven in my dream


# How many time, you can saw in sadness day?"


# How many time you can hear the world of cry?"


Reff :


"When I saw water be broken our dream's...


"When you watch fire is burning our peace...


"While the wind talk to me...


"While the wind talk to you...


"To Breath Earth at Now"


- This one message from world, don't mistake anymore


And let me be the one, light's of your life..


.....................

Senyum Untuk Indonesia


- Apa perlu kita sikapi, segalanya telah terjadi



Semua saling menantang, lantang bagaikan perang...


- Bila perlu kita mengkaji, lebih dalam kita menggali


Asal semua berlubang, pasti terlihat terang...


Reff : 


Bangkitlah Indonesia, tunjukkan pada dunia..


Apa yang telah terjadi...



Tak perlu kita sesali, tak perlu kita tangisi....


Karena kita sudah teruji...


Indonesia sudah teruji



Tersenyumlah Indonesia

.................

Monday, February 20, 2012

"Tak Ada Matinya"

Madiun, 18 Februari 2012......


Kita selalu berpendapat kita ini yang terhebat



Selepas menikmati film War Horse yang barusan tadi saya tonton. Kini saya harus dihadapkan lagi pada sesuatu yang menuntut kesabaran. Menunggu. Pekerjaan yang entah sudah berapa ribu tahun disebut sebagai hal yang menjemukan dalam hidup ini. Kesempatan kali ini saya diharuskan untuk kuat menunggu selama tiga jam. Demi unduhan satu film yang belum pernah saya menontonnya. Berjudul Princes Of Persia. Bertema sand of time. Ya butiran waktu.

Waktu adalah bagian terpenting dalam perjalanan hidup setiap manusia. Sebab mungkin adalah satu wadah atau tempat menampung setiap peristiwa-peristiwa. Baik yang manis maupun getir. Waktu pula yang terekam dalam pikiran saya, kalian, dan mereka.

Dari lembaran-lembaran waktu pula, saya ingin bercerita. Tapi akan lebih afdhol jika kita nikmati sebuah gita apik dari GIGI. Berjudul Sahabat. Karena para tokoh dalam cerita ini adalah sahabat-sahabat saya.

"Assalamu'alaikum..."
Salam dari bu Restu sebelum memasuki kelas kami 1C. Setelah jawaban atas salam tersebut kami jawab dengan kompak, "Wa'alaikumsalam....", serta dengan penuh kepercayaan diri. Bahwa dengan menjawab salam tersebut, seakan surga ada di depan mata. Bu Restu memperkenalkan siswa yang baru datang itu.

Suasana kelas kembali pada fase serius. Dia, siswa baru itu langsung mengambil tempat, di bangku yang masih menyisakan satu kursi kosong. Entah siapa teman sebangku dia. Saya sudah lupa. Jelasnya bukan anggota DPRD. Sebab dia duduk di kursi kelas bukan kursi yang selalu diperebutkan setiap lima tahunan itu. Namun pada akhirnya kok ujung-ujungnya bikin band bareng saya.

Dari sekilas saya perhatikan penampilan dan gelagatnya. Dia punya potensi. Gairah di bidang seninya tinggi. Paling tepat terkaan saya waktu itu adalah, dia penggemar Iwan Fals. Karena tidak salah lagi, ketika saya dapati cerpen hasil tulisannya. Terpampang di majalah dinding (mading) sekolah. Dengan menggabung-gabungkan judul lagu Iwan Fals hingga terciptalah karya tulis yang enak untuk dibaca. Dia pasti gemar membaca, kutu buku kelas berat. Kacamatanya menguatkan prediksi saya. Tidak salah memang jika pada akhirnya dia tercatat sebagai salah satu murid kreatif.

Ketika ingin menuliskan kisah ini benar-benar saya dihadapkan pada satu kegamangan. Mau dimulai dari mana? Kiri ataukah kanan? Depan atau belakang?

Manusia pada dasarnya seperti listrik. Punya dua potensi energi yang dominan dalam dirinya. Positif dan negatif. Plus dan minus. Itulah kita manusia. Mahkluk yang menghuni sebuah planet bernama bumi ini, yang masuk dalam galaksi Bimasakti.


..............................

Hartomo berjuluk Mbah Kung oleh kami teman satu sekolahnya. SMA COKROAMINOTO MADIUN. Kebetulan selama tiga tahun sekelas dengan saya. Jadi lebih kurangnya saya ingat gimana sepak terjangnya.

Bercita-cita masuk kelas IPA namun gagal. Bukan karena nilai ilmu pasti, fisika, kimia, dan biologinya tak memenuhi syarat untuk masuk kelas tegangan tinggi tersebut. Sebuah dunia yang sebetulnya tidak dia ingini dan gemari. Ilmu yang sebenarnya ingin dia perdalam adalah bidang IPA dan matematika. Tapi apalah daya. Keputusan tertinggi ada di tangan pak Joko yang selalu ingin membuat citra kelas IPA tetap terjaga nama baiknya. Hartomo tipe pemberontak, seinrkali melakukan provokasi terhadap teman-teman guna merombak aturan sekolah yang menurut dia tidak relevan buat semuanya. Itu pun berdasarkan cara pikir dia yang masih menunjukkan sifat dominan anak muda. Memutuskan secara sepihak atas dasar pemikiran dia.

Suatu ketika pernah dia memboikot pihak sekolah dengan demo. Aksi bolos dengan mengajak teman-teman satu kelas. Sebab musabab nya dia tak puas dengan sanksi buat murid yang terlambat datang. Karena pada waktu itu hampir tiap hari senin Hartomo sering terlambat ikut upacara. Alasannya klasik sih, namun juga masuk akal. Rumahnya Ngawi, berangkat ke sekolah naik bis lalu oper angkutan umum saat di terminal. Belum dari rumahnya Ngawi sana. Dia juga harus menunggu angkot yang akan membawanya ke terminal dulu sebelum pada akhirnya meluncur ke Madiun. Sebenarnya juga dia cuma terlambat di hari senin. Untuk hari-hari yang lain dia selalu ontime.

Tinggal di sebuah kamar kost'an kecil dari sekolah kami ke arah barat. Hanya dengan berjalan kaki maka sampailah ke tempat menimba ilmu. Dia juga golongan anak yang serius menghadapi pelajaran. Tapi di balik itu semua tetap saja darah pemberontaknya tak bisa tertutupi oleh kerajinan dia. Dari sebab itulah dia menjadi leader saat demonstrasi yang tanpa ada kreasi. Bahkan terkesan basi di mata guru-guru. Tapi apalah mau dikata. Jiwa dan pikirannya sudah terkontaminasi dengan perihal pemberontakkan. Apapun yang menurut dia tak cocok harus dirombak. Walaupun akibatnya harus dia tanggung sendiri. Seperti ketidak setujuan pak Joko memasukkannya di kelas IPA.

Kasihan Bu Rahima juga, walikelas kami. Saat di kelas 1 C, sekaligus guru kimia. Akrab dipanggil bu Ima. Harus menangis dulu agar Hartomo menurut apa kata beliau. Bukan sebab dia tak pernah kerjakan tugas kimia. Melainkan soal penampilan yang selayaknya pelajar di Indoneia pada umumnya. Khususnya yang taat. Hartomo termasuk golongan manusia yang sak karepe dewe, "ya bu besok saya potong rambut saya", tapi itu cuma pemanis bibirnya. Tak ada bukti. Besoknya masih tetap sama gondrong hampir sebahu. "Awas besok gak potong!", ancam bu Ima padanya. Memang kesokan harinya dia memotong rambut. Tapi bukan malah tambah pantes saja penampilannya. Kali ini anting bergelantungan di kupingnya. Diingatkan seketika itu juga, memang akhirnya ia lepas. Namun lusa siapa bisa menerka kalau hiasan asesoris pindah ke hidung. Ahh, dasar manusia tak bisa diatur. "Jiwa seni kebablasan", sindir bu Ima singkat saja pada nya.

Sindiran itu memang terbukti lumayan ampuh untuk meredam penerapan hidup dalam konteks seni dalam pemikiran Hartomo. Ini masih dalam tahap lumayan meredam lho, bukan dalam artian mutlak membuat si pembangkang jera tak mengulangi lagi kesalahan-kesalahannya lagi. Hari pun berganti belum genap seminggu berlalu sindiran bermaksud membangun mental dan pemikiran Hartomo ke arah yang lebih baik. Dari bu Ima, tiba-tiba saja bak buaian angin yang begitu saja berhembus. Tanpa meninggalkan jejak nerupa bentuk. Kata-kata bu Ima bak sesuatu yang tak pernah ada. Kini ganti rambutnya kembali terkena efek pemikiran arti kata pengeksplorasian jiwa seni. Setelah sempat menjadi perbincangan di ruangan guru mengenai perubahan diri yang semula susah dibina menjadi lumayan baik. Ahhh kini kembali ke wujud dan tabiat aslinya. Rambut dari warna khas Indonesia menjadi warna pirang gaya Amrik. Kini habis sudah kesabaran bu Ima. Ketelatenan membimbing dan mengajarkan serta mendidik seorang anak manusia berubah jadi emosi. mending kalau ledakan emosi itu tersalurkan dengan secara tegar memaki si pelanggar, dalam hal ini Hartomo. Ini dia tumpahkan lewat isak tangis. Karena merasa gagal mendidik dan mengajarkan arti sebuah ketaatan akan peraturan pada Hartomo. Bu Ima terlalu sayang dengan semua anak didiknya. Hingga tak tau harus bagaimana lagi mewujudkannya. Hal itu dia buktikan dengan tangisan, suatu pesan moral tersirat di dalamnya. Tanpa harus memaki dan berkata kasar. Cukup dengan perasaan dan segenap hati dia menyampaikan pesan-pesan moral itu. Tangisan itu sebuah gambaran betapa pedulinya seorang guru pada muridnya agar menjadi manusia terdidik yang unggul dalam ilmu dan moral yang baik serta unggul.

Hartomo akhirnya menyerah. Dengan segala keikhlasan dia rela memperbaiki penampilan selayaknya seorang pelajar yang baik dan sadar akan peraturan.

Masih tentang Hartomo. Dia pertama kali kost bersama DIdi anak Indramayu. Setali tiga uang. Sejurus dalam pemikiran dan idealis tentang kehidupan anak muda. Mereka berdua sama-sama menginginkan kebebasan. Tanpa ada yang mengatur jalan hidup mereka. Dalam hal ini Hartomo lebih unggul dalam belajar. Didi. Dari Indramayu datang ke Madiun untuk menimba ilmu. Penggemar klub Inter Milan. Tertarik dengan cewe bernama Meffida, rumahnya dulu depan pasar besar. Sekarang rumah itu telah tergusur. Sejak tujuh tahun yang lalu memang terjadi persengketaan atas tanah wilayah tersebut. Banyak yang pergi dari kampung tersebut, lantaran kalah dalam hal hak kepemilikan tanah yang sah. Entah disebabkan karena memang begitu adanya. Atau karena sebab uang bisa menyulap segala yang tak semestinya terjadi bakal jadi kenyataan. Kebenaran mungkin mudah sekali terbeli di negeri ini. Kalau memang benar itu keadaannya. "Oh, betapa kasihannya negeri ku ini", gumamku.

Meffida memang mempunyai tipikal wajah yang ayu. Hidungnya mungil sedikit mancung. Bak buah stroberi yang baru dipanen, menyisakan tetesan embun pegunungan. Bibirnya berwarna merah segar. Tak urung membuat Didi kesengsem. Tinggi badan Meffida memang tidak tinggi semampai. Mungkin dari sebab itulah dia terkesan seperti peri kecil dalam tidur si Didi. Perkenalan dengan gadis itu juga lewat perantara Hartomo teman satu kost nya. Kebetulan ada saudara hartomo yang tinggal sekampung dengan Meffida. Ahh tapi entah sampai dimana ujung kisah mereka berdua. Jelasnya Didi malah akhirnya membantu Rio setahun kemudian untuk menggebet si peri kecil Meffida.

Satu lagi seorang teman yang menyemarakkan cerita di kelas kami. Anis asal kota Magetan anaknya sangat mendambakan sebuah kebebasan. Hingga jadi kebablasan. Ketemu Hartomo dan Didi. Jadilah trio maut yang punya paham sejurus. Suatu siang ketika jam kosong pelajaran Geografi Anis bikin ulah. Sisa minuman semalamnya ternyata ada di dalam tas. Sebab bentuk botolnya yang gepeng maka dengan mudah dia masukkan minuman produk impor itu dalam tas nya warna coklat. Dipertontonkan pula minuman bekas semalam yang tak habis itu pada Hartomo serta Didi. Lalu menenggaknya bersama-sama. Tapi ahh dasar sial saya juga kena bohong mulut Hartomo dan Anis. Mereka sepakat bilang, "ini cuma botolnya doang yu isinya bukan minuman yang berakohol". Karena saya juga tak begitu paham dengan jenis-jenis minuman. Mana yang berakohol dan mana yang tidak. Geg geg geg geg geg. Terguyur sudah minuman itu membasahi tenggorokan saya. Baru sadar ketika beberapa menit kemudian kok kepala terasa pusing. Padahal rasanya tadi manis lho. Selidik punya selidik, ternyata minuman itu telah tercampur dengan softdrink berkarbonasi. "Goblog we yu bayu, wong omben kuwi wis tak oplos fanta abang kok" (Goblog lu yu bayu, orang minuman itu udah gue oplos pake fanta merah).

Tapi yang namanya orang tidak sengaja akhirnya tidak kena juga imbas atas ketidaksengajaan itu. Begitulah kira-kira yang saya alami waktu itu. Tiga orang itu mengalami nasib sial. Salah sendiri saya ajak masuk kelas malah ngeyel tetap ingin menghabiskan rokok di warung depan sekolah. Dan terjadilah. Bu Siti pengisi mata pelajaran Antropologi masuk kelas. Setelah jam pelajaran Geografi pak Gito yang berhalangan hadir karena tugas ke Malang. Saya selamat dari sanksi yang menjerat mereka bertiga. Bu Siti, menyita tas mereka trio ADH (Anis, Didi, Hartomo) setelah menunggu 15 menit tak juga kembali ke kelas. Anis yang paling berat menanggung sanksi. Perbuatannya kali ini tak bisa ditoleransi lagi oleh pihak sekolah. Drop out menjadi harga mati. Kasihan juga Anis bila saya mengingat solidaritasnya sebagai seorang teman. Ketika saya tak ada uang jajan dia sering kali membelikan saya makanan si warung depan. Walau tak jarang pula uang untuk jajan itu hasil dari berbohong pada orangtua nya. Selamat tinggal Anis, sampai jumpa di lain kesempatan dan waktu.

Didi, Hartomo cuma mendapat ganjaran panggilan orangtua. Tak ada sanksi yang lebih buruk dari itu. Waktupun berlalu. Hartomo semakin menunjukkan grafik kenaikan pada perilaku baiknya. Sementara Didi, ah tetap saja terlambat datang ke sekolah jadi menu sarapan guru-guru piket.

Di sebuah kesempatan selepas liburan caturwulan pertama kelas satu. Saya duduk bersandar dinding menghadap ke arah matahari terbit. Hartomo menghadap selatan menyandarkan diri pada punggung pintu kelas kami. Dia bercerita tentang tanah kelahirannya, Ambon. Tentang pantainya yang indah, masa kecilnya yang ceria di sana. Berbicara masa lalu ketika menghabiskan masa kanak-kanaknya di pulau bagian timur bumi pertiwi ini. Bercerita kesibukan ibu-ibu membakar sagu. Kesibukan masa kecilnya saat hari raya Idul Fitri di sana. Mengisi hari raya tersebut dengan mengantarkan makanan ke tetangga-tetangga nya di sana, yang beragama Kristen. Lalu ketika hari Natal giliran dia mendapatkan kiriman kue-kue dari tetangga-tetangga nya yang beragama Kristen. Begitu damainya kehidupan di Ambon dulu. Hartomo sering menyebut kerukunan itu dengan istilah Pela Gandong, yang kata dia telah menjadi denyut nadi kehidupan orang-orang di sana. "Namun sekarang keadaan telah berubah", matanya berkaca-kaca ketika mengucapkan kalimat tersebut. Dia mengusap kedua matanya dengan saputangan yang selalu dia kantongi. Dibukanya kacamata itu. Seakan dia merindukan kedamaian yang dulu. Seperti masa kecilnya yang dahulu kala. Ketika di Ambon.

"Pasti ada pihak yang menunggangi", kembali dia berbicara. "Bayangkan saja Ambon yang dulu damai kini jadi kacau balau karena perselisihan yang tak ada ujungnya. Pasti ada oknum yang memprovokasi atas tragedi-tragedi yang terjadi di sana. Bayangkan saja rakyat yang semula cuma tahu gimana agar tetap bisa makan, hidup nyaman, tentang tradisi kebersamaan. Sekarang harus saling berperang angkat senjata. Atas nama agama. Atas nama kebanggan sebuah emirat harus ditegakkan. Ahh, dulu aku begitu rukun dengan kawan-kawan yang Kristen. Sekarang segalanya telah berubah. Aku prihatin dengan keadaan ini. Namun aku cuma bisa berharap dan berdo'a, semoga Ambon kembali berseri. Ungkapan pela gandong selalu berjaya ke seluruh penjuru dunia. Apapun agama kita harus tetap hidup rukun dan berdampingan".

Saya cuma terkesima dengan pemaparan Hartomo. Di usia yang masih terbilang muda bahkan baru remaja mampu berpikir sedewasa itu. Memang Ambon layaknya nafas hidupnya. Bersama gitar dia sering mendendangkan lagu tanah kelahirannya. Setiap kenangan yang tertinggal di sana seolah bak siluet burung camar kala menikmati sunset di bibir pantai. Ambon tak akan pernah habis membiuskan sejuta kenangan indah di dalam sanubarinya....

..................

Di kemudian hari bulan Oktober tahun ajaran 2000/2001 inilah titik awal Hartomo membuat catatan gemilang di sekolah kami. Berawal dari cerita pak Nuryanto. Sela pelajaran PPKn agar murid-murid tak bosan maka dihibur olehnya tentang cerita sekolah kami jaman dulu. Masa lalu SMA kami dulu yang dihuni banyak siswa. Bahkan kata beliau sampai ada sembilan kelas. Untuk masing tingkatan. Benar-benar membanggakan. Kegiatan di luar jam pelajaran formal pun cukup banyak juga menarik. Ketika ada peringatan hari Sumpah Pemuda bermacam-macam lomba adu kreativitas antar siswa digelar. Menjadi ajang yang menarik dan layak untuk ditunggu-tunggu perhelatannya. Lalu tak ketinggalan pertunjukkan kesenian di penghujung acara puncak. Jika teringat kala Pak Nur bercerita saya jadi terlintas film Laskar Pelangi.

Ingat sebuah cerita, dimana seorang guru bernama ibu Muslimah. Dalam film nya diperankan oleh Cut Mini. Begitu lihainya membakar semangat semangat anak-anak SD Muhamadiyah. Ketika kejenuhan yang teramat sangat mendera. Bangunan sekolah nyaris ambruk jika tak ditopang kayu penyangga tambahan. Namun dalam hal ini Cut Mini, eh sorry Ibu Muslimah mampu mengatasi keadaan dengan cerita nya. Kisah tentang Bung Karno yang mampu menulis buku Indonesia Menggugat ketika presiden pertama negeri ini dijebloskan dalam penjara. Sel yang sempit di kota Bandung. Oleh pemerintahan kolonial Belanda. Dalam sel yang sempit dan bau serta penuh penderitaan tak membuat semangat sang Ploklamator redup. Semangat untuk terus berjuang guna kemerdekaan yang harus terengkuh. Cerita inspiratif mampu membakar semangat anak-anak Laskar Pelangi.

Pak Nur tak beda jauh dengan adegan tersebut. Cuma dalam konteks, kisah itu masih kalah heroik nya dengan cerita yang ditulis Andre Hirata. Namun juga tak apalah jika saya sedikit agak kepedean menyandingkan kisah itu dengan karya sang Maestro Andrea Hirata toh esensi nya juga gak beda jauh. Mengobarkan semangat.

Atas cerita tersebut Hartomo terlecut untuk berbuat sesuatu. Mumpung masih bulan Oktober. Sumpah Pemuda tinggal menunggu waktu. Gayung bersambut, ternyata Osis juga merencanakan acara tersebut.

.......................

Setelah berlatih dengan konsisten kami Spidol Band. Dengan personil Hartomo dan Fery pada gitar. Maryono pemain bass. Lalu tak ketinggalan Pranata penggebuk drum. Meraih juara satu lomba band di sekolah kami. SMA Cokro dalam rangka peringatan hari Sumpah Pemuda saat itu. Hal yang  tidak kami sangka sebelumnya. Di luar dugaan. Kami puas. Terutama Hartomo dan Fery sebab mereka berdualah kompak dalam pemilihan lagu yang kami bawakan. Mahadewi dan Begitu Indah. Semua kami ambil dari kantong album Lain Dunia milik Padi.

Walau pada akhirnya setelah momen ini Pranata jadi gitaris menemani Hartomo. Drumer akhirnya kami percayakan pada Bambang. Sedangkan Fery mengisi posisi bass. Maryono tak terlalu serius itulah perombakan band. Malah pada akhirnya kita ikutan berkompetisi di IKIP Ngawi.

Kebersamaan Fery dan Bambang akhirnya juga ada ujungnya. Sebab mereka satu tingkat di atas kami betiga. Akhirnya nasib Spidol Band berkali-kali mengalami pergantian. Cuma saya dan Hartomo yang konsisten. Sedangkan Pranata mulai sibuk dengan kegiatan balap motornya. Namun kembali bermain band sebagai penggebuk drum lagi saat acara perpisahan. Bersama saya, Hartomo, pengganti Fery yang juga punya nama yang sama dengan pendahulunya. Namanya Fery juga. Dengan posisi yang sama pula pemain bass. Untuk menemani Hartomo bermain gitar kita mendaulat Joko. Sekarang sudah almarhum. Meninggal tahun lalu. Joko termasuk murid kelas IPA. Paling cocok ngamen duet dengan Hartomo, alias Mbah Kung.

..........................

Hartomo kembali bikin ulah...! "Cuma hal yang biasa", begitulah komentar saya. Ketika mendapati dia bikin masalah lagi Dengan percaya diri masuk ruangan kelas tiga. Padahal tidak punya bulti apakah dia naik ke kelas tiga, berupa buku raport. Catatan, rangkuman nilai selama setahun hilang entah kemana man. Sudah gitu dengan pede yang super tinggi masuk ruangan kelas IPS 1 duduk sebelah saya. Setelah pak Joko menggagalkan niatnya masuk IPA. Dia pilih meleburkan diri dalam komunitas pelajar sosial. Kalau masalah dia kepedean sih, mungkin bisa kita tolerir, sebab saya yakin nilainya pasti memenuhi syarat. Terutama ilmu pasti. Tapi kalau bukti otentik berupa buku raport belum dia kumpulkan semenjak kelas dua gimana brotha and sista? Okelah kalau nilainya bagus-bagus, tapi semua kan perlu bukti yang tertulis di buku raport kan?

Tapi dasar dia yang punya masalah sepertinya tak mau ambil pusing. Surat kehilangan atas buku raport nya dari pihak kepolisian tak kunjung dia urus. Bahkan enggan. "Terlalu berbelit-belit", kata nya pada pak Joko. "Masa' sama murid sendiri nggak percaya? Apakah di dunia ini ada seseorang yang menginginkan kehilangan sesuatu dalam hidupnya. Bila sesuatu itu sangat penting sebab menyangkut masa depannya, termasuk raport?" "Tapi harusnya kamu juga bisa jaga buku raport mu Har". Pak Joko dengan sedikit jengkel beradu argumentasi pada lawan bicaranya. "Ya ini udah dijaga pak, tapi yang namanya hilang mau diapain lagi pak? Pokoknya, saya tetap masuk kelas tiga". Masih juga sikap keras kepalanya, tercermin dari perkataan menukas kalimat Pak Joko.

Hadehhh, masalah satu ini akhirnya berlalu begitu saja tanpa ada kesan memojokkan si pelanggar. Tak ada sanksi. Hartomo tetap enjoy dalam belajar. Seolah tak ada masalah yang menindihnya. Apalagi selang beberapa bulan ada siswi baru asal Jakarta. Yang akhirnya jadi cewe dia. Marlina. Berhasil dia luluhkan hatinya. Secara otomatis semua masalahnya, seperti bebean kapas dan tak terasa olehnya.

Dalam pergaulan Hartomo tak membatasi diri. Terbukti teman sekampung saya jadi akrab dengannya. Joker dan Tomi sempat berkunjung ke rumah Hartomo. Bersama saya dan fery. Khusus yang bernama Joker ada kenangan menggelikan. Kesalahpahaman pihak sekolah kami dan dia berbuntut penyerangan. Dia, Joker awalnya berlagak seperti Iskandar Agung yang gagah berani memimpin rekan-rekannya melakukan penyerbuan ke pihak kami. Tiba-tiba saja berbalik haluan dan menyingkir jauh dari medan pertempuran. Indikasi penyebab mundurnya dia karena melihat Hartomo ketika memasuki gerbang sekolah kami.

 Joker tak ingin merusak persahabatn.

 Awal pertemanan Joker dan Mbah Kung seperti pada umumnya anak-anak remaja. Joker satu RT dengan Fery, anggota Spidol Band yang pertama. Kami sering nongkrong bareng di rumah Fery. Dari Fery pula saya belajar main gitar. Hartomo serta Didi merasa nyaman ketika ikut nongkrong bareng bersama kami. Disitulah jaringan pertemanan berkembang dan tambah luas.

Bahkan tambah akrab tatkala Joker kehilangan uang SPP di suatu malam. Karena tak bisa bantu apa-apa maka saya dan Hartomo mengajaknya ngamen bareng di kota Ngawi. Guna mencari jalan keluar atas masalah yang membelitnya. Soal makan dan tidur tak ada masalah, keluarga Hartomo siap menampung kami. Kebetulan saat itu libur tiga hari. Joker kagum kagum pada rumah Hartomo.

Dindingnya kayu jati, ruangan untuk tamu yang luas. Kamar tersedia banyak. Suasana adem. Pada lantai terlapis batu kali yang permukaannya didesain menjadi bidang datar. Mengilap pula saking rajin penghuninya mengepel. Ornamen dan hiasan dinding kuno tertata apik, terpajang dan menambah kesan klasik nan artistik pada rumah joglo itu. Lampu kuno tergantung. Hampir semua hiasan di rumah termasuk vas bunga berbahan logam kuningan peninggalan leluhur si empunya rumah. Halaman depan udaranya sejuk karena berdiri sebuah pohon dengan gagahnya. Rimbun dedaunannya menjadi payung bagi yang berteduh di bawah pohon itu. Menikmati sore dengan segelas kopi, mengobrol pada bagian balkon. jadi ritual yang mengasyikkan ketika singgah di rumah Hartomo. Disambut keramahan Ibu dan saudara-saudaranya. Apalagi pas lebaran ketika sanak saudara nya dari Ambon berkunjung ke situ.

........................


"Bumi perkemahan Kresek menjadi ajang perayaan kaum muda"


My Mom, juga sering menanyakan tentang keberadaannya. Sifatnya yang tak pernah ibu saya lupakan. Ketika ke rumah saya tanpa harus ditawari. Kalau perutnya sudah lapar dia minta makan. Dari sifat keterbukaan dan terus terang itulah ibu saya kagum akan sikapnya. Bahkan ketika hartomo hendak meminjam tape compo di rumah saya. Buat hiburan saat acara kemah. Tanpa banyak pertanyaan, tahu Hartomo yang akan pinjam langsung dikasih ijin. Ketika itu dia, diajak panitia kemah untuk ikut serta meramaikan suasana. "Apa para pembina Pramuka tak salah ngajak dia?" Keraguan saya langsung timbul akan efek yang kemungkinan terjadi.

Anton Handoko dua minggu lalu nyaris terpukul pengapus papan tulis. Andai pak Nur sasarannya tak meleset, akibat perkataan dia yang terkesan clebungan* memotong cerita. "Bangunlah sebelum burung berkicau....." . "Burung emprit", kata Anton. Kontan penghapus papan melayang membidiknya. Untung saja nasibnya agak mujur. Hanya mengenai dinding yang behimpitan dengan meja bangkunya. Sedikit lebih beruntung dari nasibnya sebelum kejadian itu. Karena sempat membikin gaduh ketika jam pelajaran kosong bersama saya, Amid, serta Dwi Andi alias Poltak (penjual bensin eceran di toko kelontongnya). Kami bernyanyi bersama mendendangkan lagu Iwan Fals, berjudul Lonteku. Kontan seketika itu juga dari arah berlawanan pak Nur yang terasa terganggu ketika mengajar kelas satu. Memberondongkan kerikil ke arah kelas kami. Lalu dengan wajah beringas memanggil para pembuat gaduh, mennyuruh gerombolan itu. Tremasuk saya membuat konser paduan suara dadakan.Disaksikan semua yang ada. Di taman area letter U yang dikelilingi jajaran kelas. Ahhh, betapa malunya kami saat itu. Anton sama layaknya dengan Hartomo. Tukang buat ulah. Provokator ulung untuk kelas remaja seusia kami.

(*) Sebuah istilah dalam bahasa Jawa, yang artinya memotong pembicaraan orang lain. Biasa lewat ucapan kata-kata yang tak selayaknya (tak ada hubungannya) dengan apa yang dibahas / dibicarakan.

Mengetahui Hartomo ikut kemah. Anton dengan segenap punggawanya, Amid dan Poltak. Juga tak ketinggalan para drunken master lainnya. Mengunjungi bumi perkemahan tempat di mana sekolah kami menggelar acara bertajuk, kecintaan terhadap alam semesta. Ikut berpartisipasi meramaikan acara api unggunnya. Tentu dengan minuman keras. Hartomo of the Mbah Kung meleburkan diri dalam komunitas pendekar mabuk. Tanpa menyadari bahwa dia telah menyulut api masalah, dalam kemeriahan malam api unggun. Bumi perkemahan Kresek menjadi saksi atas ingar bingar pesta anak muda. Pesta sekelompok anak manusia yang ikut andil dalam pencarian sebuah arti kata eksistensi diri. Tapi tanpa menyadari api masalah menunggu di depan mereka.

...........................

Pak Mawan di senin siang datang ke kelas kami. Menunggu di luar para drunken master yang ikut acara malam api unggun malam minggu lusa lalu. Maksud kedatangan pengajar Bahasa Indonesia itu hendak memanggil personil drunken master kelas kami. Tentu yang juga ikut di malam minggu lusa. Tanpa banyak hambatan semua akhirnya terkumpul lengkap sudah. Hartomo, Anton, Amid, dan Poltak juga sudah siap pula untuk menerima nasib hari ini.

Disaksikan oleh ratusan pasang mata, mereka berolahraga siang. Push up 50 kali. Tapi jangan salah walaupun pak Mawan berlaku sebagai pemberi sanksi namun ternyata beliau juga ikut berolahraga. Juga melakukan push up. Alasannya mendasar sih, pak Mawan cuma ingin menunjukkan pada semuanya. "Bahwa akan lebih baik memberi contoh dalam hal apapun melalui tindakan. Bukan cuma perkataan dan teori. Akan lebih bisa diterima bagi yang diberi contoh. Termasuk memberikan hukuman bagi si pelanggar aturan. Maka yang bertindak memberikan hukuman juga harus turut serta memberikan contoh. Percuma bikin teori bertele-tele bila tak tepat sasaran. Sekarang bagi kaum muda yang terpenting adalah praktek bukan teori". Begitu kata beliau ketika berkesempatan mengajar di kelas kami.

Dari semua pasang mata yang menjadi saksi atas peristiwa tersebut tidak ada yang berkomentar. Kecuali, Rika Gope'. Salah satu teman terbaik kami juga. Gemar lagu-lagu dangdut, disaat senggang terkadang dia juga menghibur kami dengan suaranya. Merdu juga. "Kapokmu kapan we Mbah Kung, sesok dibaleni neh ya?" Mbah Kung cuma cengar-cengir saja meladeni sindiran itu, sebab bagaimanapun juga si Gope' tetap teman yang selalu menghibur kami.

Oh iya hampir gue, eh sorry bukan gue tapi saya. Pengen bilang ke Rika Gope', "sekarang aku lagi seneng dengerin Dangdut Koplo, sumpah asik dan enak menikmati musik tersebut". Cerita tentang SMA kita juga bisa kamu baca disini lho....!

 .........................................

Kau membuatku senang, membuat ceria. Sahabat paling sejati selalu...







Tuesday, February 14, 2012

"Ini Tentang Rasa" 2

Jakarta, setelah Lebaran tahun 2003.........

Liburan hari raya Idul Fitri usai sudah. Aktivitas kembali normal dan Jakarta kembali memikul beban kehidupan manusia-manusia urban yang berasal dari seantero negeri ini.

Tagor, pemuda kelahiran Jakarta yang punya model rambut mirip Mus Moejiono tak lagi kembali. Kami, rekan kerjanya tak kaget akan hal tersebut. 18 hari yang lalu sebelum hari raya. Ia menunjukkan surat pemberhentian dirinya. Sebab proyek telah menunjukkan signal akan habis. Tanda-tanda akan hal tersebut sebetulnya telah kami baca dan rasakan. Selama bulan puasa nyaris tak ada lemburan sama sekali. Walaupun hanya berdurasi dua jam saja. Setiap hari, selama bulan Ramadhan kami hanya bekerja dalam hitungan waktu normal. Delapan jam. Pukul 16.00 WIB kami pun beranjak pulang. 

Plus pesangon dan THR yang dia tunjukkan pada saya dan teman lainnya. Namun pihak PT masih memberikan angin segar buatnya. Jika nanti ada kerjaan lagi atau proyek lagi tenaga dan pikirannya masih dibutuhkan. Oleh sebab itu setiap pekerja yang kena imbas dari pengurangan diharap mencantumkan no telepon yang bisa dihubungi. Jika suatu saat nanti ada kerjaan sesuai bidangnya. Namun Tagor tak lagi kembali, dia telah mendapatkan kerja yang baru.

Tagor tak sendiri dalam hal ini. Nasrudin. Kami sering memanggilnya dengan julukan Ateng. Baru saja dapat momongan. Lelaki asal Banjarnegara ini harus rela meletakkan pekerjaannya. Yadi juga begitu. Mudiknya ke Solo tahun ini bakalan panjang. Walaupun toh pada akhirnya pihak PT menghubunginya lagi ketika proyek di lokasi yang sama semarak lagi.

Amad dan Metro adalah punggawa tim elektrik dari Lampung yang masih tersisa. Walaupun akhirnya Metro pulang kampung. Penyebab si Metro pulang kampung bisa dilihat pada cerita sebelumnya. Kepergian Metro merupakan kehilangan sebenarnya. Karena dia golongan manusia yang tangguh. Setiap pekerjaan yang membutuhkan tenaga ekstra dia lah yang jadi jargon kami, tim listrik. Ada lagi Kristanto pria ngapak asal Gombong Jawa Tengah. Stereotipe wajahnya kental banget Ambon nya. Namun ketika orang lain mengobrol dengan nya akan ketahuan dari mana dia lahir dan dibesarkan. Terkadang dia terasa malu dengan aksen ngapaknya. Hingga dia terkadang juga memaksakan logat Jawa ala Solo, atau daerah Jawa Tengah lainnya yang tidak ngapak. Tapi saya selalu menekankan pada dia, "jadilah seperti apa yang kamu miliki, bahasa daerahmu adalah bagian dari budaya, yang proses penciptaan dan pencetusan ide dari leluhur-leluhur kamu juga memakan waktu yang tak singkat". Hingga akhirnya dia pun sadar dan memahami betapa pentingnya menghargai budaya dari mana tempat kita berasal. Termasuk bahasa daerah. Lalu tanpa canggung dia tetap berkata dan kami teman-temannya masih bisa mendengarkan kalimat, "yonge uwis teka nunggu rika'e lha kok suwi temen ya', nyang endi bae rika'e?"

Ada satu hal ketika pertama kali saya berjumpa dengan orang-orang Lampung. Kok dengan fasihnya mengucapkan bahasa Jawa. Usut punya usut setelah mendapat informasi dari mereka yang bersangkutan. Ternyata orang tua mereka rata-rata adalah orang Jawa. Atau paling tidak orang tua mereka masih mempunyai darah Jawa. Semisal Amad, menurut cerita dari dia, bahwa orangtua nya asli Blitar Jawa Timur. Ya karena berat diongkos buat pulang kampung jadinya sampai saat ini. Amad belum pernah menginjakkan kakinya di tanah leluhurnya. Bukan berarti dia, kacang lupa kulitnya, tapi keadaan lah yang membuatnya harus menunda keinginan tersebut.

Bahkan kalau saya nilai bahasa Jawa ngoko orang Lampung lebih terkesan masih murni. Suatu bukti mereka sering bilang, "piranti kerjane ojo sampek lali lho ya", mereka tidak mngganti kata piranti dengan kata alat.

Oh iya hampir saya lupa. Kembali pada Kristanto. Satu sifat dia yang tak akan pernah saya lupakan. Dia paling gemar membantu teman. Dia paling hemat diantara kami. Selain kami kas bon pada kantor Kristanto juga bisa diandalkan tatkala kami kesulitan dalam hal financial. Paling perlu digaris bawahi dia juga punya sistem yang sama dengan kantor saat memberi pinjaman pada kami. Yaitu tanpa pernah membebani dengan bunga dan jaminan. Sifatnya tulus membantu apa yang dia bisa dan mampu.Dari sifat tersebut jkami jadi berpikir 99 kali untuk berbuat curang padanya. Semisal tak mengembalikan uang padanya. Saat berhutang.

Kristanto sempat juga marah dengan saya. Lantaran saya salah dalam mengambil posisi. Waktu itu saya, Amad, Wahid, serta dirinya bersama-sama mengangkat besi penyangga haspel (penggulung kabel). Posisi Kristanto akhirnya terjepit pas pada bagian lehernya. Kalau dia tidak cepat beraksi kemungkinan besar akan terkilir lehernya. Dia pun marah. Tapi apa mau dikata saya cuma bisa mengakui kesalahan. Atas ketidak telitian dalam mengambil posisi yang tepat. Sebagai pria yang lebih dewasa dari saya. Baik usia maupun pikiran akhirnya dia memahami. Bahwa memang saya masih perlu banyak belajar. Learn and more.

Saya mungkin termasuk dalam golongan manusia yang sedikit mujur bahkan beruntung saat itu. Seharusnya jika merunut asal muasal saya dari tim elektrik. Sepatutnya saya termasuk nominasi kuat untuk terdepak sebelum lebaran datang. Sebab kebanyakan jumlah personil sedangkan jumlah pekerjaan berangsur turun. Keberuntungan saya ini lantaran Unyil mengundurkan diri sebagai pembantu nya Feri mekanik AC asal Mojokerto. Bicara soal Feri kini nasibnya malah tidak menentu. Dia sekarang terkena gangguan jiwa. Menurut kabar dari Wahid ketika menelepon saya tahun lalu, 2011.

Kembali pada topik kisah si Unyil..

Suatu malam yang nahas bagi dirinya. Tergiur harga logam tembaga yang mengalami kenaikan dia nekad membawa pulang sisa-sisa potongan kabel power. Di sela waktu sebelum istirahat siang dia mampir sejenak beberapa menit. Mengunjungi kami anak-anak penarik kabel. Waktu itu sudah tidak ada jadwal penarikan kabel, melainkan lagi sibuk-sibuknya dengan urusan connect to panel.

Setiap lantai terdapat panel induk sebagai pemasok tenaga listrik ditiap-tiap lantai. Otomatis tiap-tiap panel induk di tiap lantai juga harus saling berhubungan. Satu dengan yang lainnya. Maka dari itu ada beberapa kabel power yang menjadi penghubungnya. Jumper. Lha kabel-kabel jumper itulah awal penyebab Unyil melakukan kecurangan.

Daripada kurang mendingan lebih. Pepatah lama yang jadi acuan agar selalu antisipasi terhadap kemungkinan yang terjadi di waktu ke depan. Ketika panel belum terpasang untuk mengantisipasi jika ada pergeseran letak panel. Maka dengan kesepakatan melebihkan ukuran kabel. Memberi spare setengah meter dari ukuran sebelumnya.

Unyil pun tergoda akan sisa-sisa potongan nya. Lalu memotong kabel-kabel sisa sedikit lebih pendek dari panjang telapak kakinya. Agar muat dimasukin sepatu.

Akan tetapi yang dilakukan Unyil memang kelewat batas. Ambisinya adalah sebanyak mungkin, satu dua kali berhasil akhirnya terus-terusan. Kita cuma geleng-geleng kepala. Karena tak tahu haru gimana lagi kasih nasehat ke dia.

Ahhhh, malam yang nahas bagi dia. Ketika keluar dari bedeng seperti biasa satpam memeriksa para pekerja proyek yang pulang. Karena sepatu tak muat, Unyil menaruh hasil kerja sampingan hari ini ke dalam tas. Dia tak menyadari justru saat itu dia sedang mengundang tragedi untuk nasibnya. Petugas meraba ada yang aneh dalam tas nya. kemudian menyuruh Unyil membuka retsleting tas itu. Karena saking paniknya Unyil berniat lari. Tapi baru sekitar lima meter tas nya jatuh. Lantaran selempang tas punggungnya putus. Petugas akhirnya dengan sangat leluasa berhasil mendapatkan tas itu dan mengetahui isinya.

Unyil pada akhirnya diintrogasi kurang lebih selama satu jam. Segenapstaf kantor kebingungan. Lalu menghubungi Bapak Sardomo. Inilah ketika pemilik PT datang nasib Unyil ditentukan.

Beruntung saat itu belum memasuki tahap hand over atau serah terima. Dari PT JMS ke pihak Wisma Mulia. Jadi potongan kabel sisa itu masih hak JMS. Lalu tentang nasib Unyil keputusan diserahkan pada pak Sardomo. Selaku pemilik kabel.

JMS beruntung punya punya pemimpin seperti dia. Jiwanya pemaaf. Tidak menjatuhkan hukuman pada Unyil malah memberikan kesempatan pada Unyil untuk tetap bekerja lagi. Keputusan itu muncul lantaran pak Sardomo memahami alasan, kenapa dirinya melakukan hal tersebut.

Lelaki asal kota Pati Jawa Tengah. Unyil, sejak lulus SMP meninggalkan kampung halaman. Bersama orangtua nya merantau ke Jakarta. Tinggal di rumah kontrakkan daerah Mampang Buncit. Adiknya masih butuh biaya untuk sekolah. Sedang orangtua nya telah berusaha sekuat tenaga, cuma cukup untuk urusan perut sehari-hari. Hasil kerja Unyil harus terbagi buat keperluan nya dan kewajiban-kewajiban sang adik terhadap iuran sekolah. Walau masih sekolah dasar pastinya kita sedikit mampu memprediksi biaya yang harus dibayar bukan? Belum lagi buku-buku penunjang belajarnya.

Itulah alasan kenapa pak Sardomo punya keputusan demikian. Tetapi mau dikata apalagi, Unyil tetap bergeming pada keputusan nya. Yang tak bisa diganggu gugat oleh pihak manapun. Sekalipun pemilik tempat dia bekerja sendiri yang memintanya untuk tetap bertahan dan terus bekerja lagi. Dia, Unyil tak bisa merubah pilihan. Malu jadi alasan.

Ohhh, ternyata malu merupakan sekat yang sulit untuk dihilangkan. Ketika manusia telah menyentuh selaput yang dinamakan sifat malu. seakan hidup tiada lagi gairah. Apakah malu juga merupakan bagian dari, ini tentang rasa yang tak biasa?"




Thursday, February 9, 2012

Ini Tentang Rasa

Ada baiknya kita nikmati sejenak alunan tembang yang sederhana di bawah ini :



"Jakarta. Mungkin dari sebagian banyak orang akan setuju denganku.
Adalah kota dengan sejuta cerita. Bisa jadi malah lebih".

Sebelumnya saya minta ma'af jika sok-sok'an bicara tentang Jakarta. Menuliskan sebuah cerita berlatar belakang ibukota negeri ini. Kalau boleh dibilang sih, sebenarnya saya tak begitu lama tinggal di kota Jakarta. Pertengahan tahun 2002 usai piala Dunia di Korea-Jepang. Kembali ke kampung halaman tahun 2004 setelah perhelatan akbar Uero di Portugal usai. Praktis hanya berkisar dua tahun. Seumuran jagung boleh dibilang.

Dan yang paling menggelikan adalah cerita dimana saya tak pernah mencicipi tempat rekreasi yang ada di kota itu. Gimana sih bentuknya Taman mini, Ancol, Dufan, bagi saya hal yang paling menarik saat itu adalah tuntutan untuk terus bekerja. Maklumlah man, "saya cuma pekerja proyek, tanpa lembur gak ada duit lebih buat tambahan jajan, syukur-syukur kalau sedikit mujur bisa beli baju dan celana jean's baru". Pikir saya waktu itu. Jadi soal menghabiskan uang buat keperluan rekreasi adalah termasuk dalam kategori nomor 127 sekian. Entah menurut orang lain ini tepat atau enggak saya juga tak tahu. Bukankah setiap keputusan itu juga bersifat relatif man?

Datang ke Jakarta hanya dengan modal nekad. Seorang lulusan SMA dari kota kecil Madiun. Melakukan urbanisasi ke kota yang sepuluh kali lebih besar dari kampung halamannya. Tanpa bekal keterampilan, pengetahuan dan penguasaan ilmu teknologi yang memadai. Apa yang terjadi?

Ahh.. inikah Jakarta, inikah kemujuran saya. Seminggu bukan waktu yang terlalu lama untuk mengubah status saya jadi seorang pekerja. PT Jaya Marta Sentosa yang disingkat JMS. Perusahaan kontraktor yang bergerak di bidang elektrik dan mekanik membuka pintunya untuk saya. "Terimakasih Tuhan, do'a ku telah Engkau beri jawaban", gumamku lirih selepas sholat Dhuhur. Atas jasa pak Lek, paman, atau bahasa kerennya Om saya. Pada waktu itu dia menjadi salah satu security di Wisma Mulia. Gedung dengan 54 lantai terletak di jalan Gatot Subroto Jakarta Selatan. JMS mendapatkan tender atas pengerjaan sarana elektrik dan mekanik gedung tersebut. Secara otomatis butuh tenaga. Kebetulan Paklek saya kenal dengan kepala gudangnya, namanya Pak Edi. Orang Solo matanya sipit, maklum keturunan Tionghoa. Lumayan loyal pada rekan kerja terutama dengan rekan kerja yang posisinya berada di bawahnya. Termasuk saya. Tapi bicaranya kadang juga nyentil di telinga. Istilah nya Lambe Jenang* Bila tak cocok dengan apa yang pekerja lain lakukan.

(*)Sebuah julukan untuk orang yang paling sering membuka atau membicarakan aib orang lain.

Suatu kejadian pernah bikin saya sedikit sakit hati sih, "Yu nek awakmu gak gelem lembur awas tak omongne Paklek mu pak Ridwan lho, golek kerjo kuwi angel le, ojo gae aturan dewe" (Yu kalo gak mau lembur awas gue bilangin Om lu pak Ridwan, cari kerja itu susah, jangan bikin aturan sendiri lu). "Anjrit pake bawa-bawa nama Paklek gue. Lembur gak lembur kan hak setiap pekerja, toh kalo gak lembur kan juga gak dapet gaji tambahan? Gitu aja kok ribet". Begitu pikir saya saat itu. Hanya dalam hati saya mengumpatnya. Sebab bakalan panjang urusan kalu sampai saya nekad melafalkannya dengan suara yang nyaring. Apa jadinya jika persediaan uang saya habis, sisa gaji saya minggu ini habis. Dia lah yang punya hak kepada siapa saja memberikan kas bon untuk pekerja. Kalau dia marah. Gimana saya dapat sarana mudah pinjam uang dari kantor. Dan yang lebih membuat Pak Edi punya wewenang untuk memberikan kas bon. Sebab setiap hari sabtu dia lah yang membagi gaji pada kami.

Namun suatu ketika saya mendapatkan pelajaran berarti dalam dunia kerja. Omongan. Sentilan Edi ternyata ada benarnya. Ketika itu malam sekitar pukul 20.00 WIB saya duduk bersandar dinding menikmati kopi dalam wadah gelas plastik sisa air kemasan yang barusan saya habiskan. Antok salah seorang supervisor kami datang mendekati saya. Dia merupakan keponakan jauh dari pemilik JMS, Bapak Sardomo. Karena dia orang Solo maka kami pun biasa berdialog pakai bahasa Jawa. Seperti biasa masih dalam dialek Jawa nya yang beraksen halus itu, dia mulai mengungkapkan maksudnya menemui saya. Dia bilang, berpesan tanpa ada unsur menggurui. Lebih tepatnya saling berbagi tentang pengetahuan di bidang kerja. Intinya bahwa. Kerja secara regu atau kelompok adalah kebersamaan. Tidak lurus mengarah pada bagaimana kita bisa mendapatkan gaji yang banyak dan besar. Ini sangat berhubungan dengan saya yang sangat males untuk lembur sampai jam sepuluh malem. Kata dia. "Bukan masalah lembur itu ada tambahan dan nggak lembur itu nggak ada tambahan gaji. Ini menyangkut soal kebersamaan dalam bekerja. Tim itu harus kompak yu, lihat temen-temen kamu yang lembur. Coba kamu lihat semangat mereka. Bukan apa-apa sih, tujuan manusia untuk saling bekerja sama itu tak lain agar saling meringankan. Misal begini, ketika salah seorang kepala regu kehabisan ide dalam memecahkan masalah pekerjaan. Bukan tidak mungkin anak buah punya cara lain yang lebih bisa untuk mengatasi masalah itu. Dan itulah kenapa kita menganjurkan agar setiap perkerja bersedia bila diminta untuk lembur. Tujuannya agar kerja itu jadi lebih ringan. Kemarin-kemarin pas kamu sering tidak ikut lembur. Apakah kamu juga membayangkan bagaimana sebuah tim jika kehilangan satu anggotanya? Apakah tambah ringan atau tambah berat dalam bekerja?" Saya cuma diam saat Antok memaparkan penjelasan yang begitu panjang itu. Dan mulai berpikir jernih lalu terbukalah matahati saya, "bahwa dalam kondisi apapun kita selalu butuh rekan, teman, untuk saling berbagi dan bertukar ide untuk menyelesaikan masalah". Berarti selama ini saya, "tidak menghargai kerja keras temen-temen saya", sesaat setelah Antok meninggalkan saya. Mungkin dia tahu, bahwa saat itu saya butuh waktu untuk berpikir.

Saya beruntung punya banyak teman, dari Solo, Mojokerto, ada dari Lampung serta Medan. Dari Padeglang, Subang, Indramayu, Bandung Pati, dan yang paling jauh dari Kendari. Sekian banyak teman saya yang sampai sekarang masih saling kontak lewat HP adalah Wahid dari Solo. Serta jumadi asli kelahiran Pati.

Paling menyedot perhatian saya adalah teman-teman dari Lampung. Ada enam orang sebenarnya. Namun satu-persatu dari mereka dengan terpaksa pergi dan pulang kampung. Fendi karena sakit pada tenggorokan yang tak kunjung sembuh akhirnya memilih untuk meninggalkan kota Jakarta. Mungkin dia tak terbiasa dengan kondisi kota yang pola hidup masyarakatnya begitu ketat. Fendi stress mungkin.  Basori juga gitu. Bukan karena sakit, dia tak betah tinggal di Jakarta. Kata dia, "tak semudah dibayangkan hidup di kota ini". Ada lagi si Gepeng pemuda kerempeng yang sebelum berangkat ke Jakarta merupakan buruh perkebunan sawit ini malah lumayan kurangajar. Sebab dia pergi adalah karena tak mampu lagi membayar utang di warung. Salah sendiri habis terima gaji langsung bertarung judi kartu. Dua malam di bedeng. Akibatnya seperti itulah, warungnya Mamang jadi kena imbasnya. "Di ikhlasin ajalah Mang, bukan rejeki", kata saya waktu itu pada pemilik warung. Buka warung di kawasan bedeng proyek, memang butuh modal sepuluh kali lipat agar mampu bertahan. Di tengah terpaan angin yang lebih kenceng dari peuting beliung, yaitu utang para pekerja proyek. Gimana lagi, modal belum balik ada lagi yang menuliskan pundi-pundi utangnya. Tapi hidup harus tetap berjalan bukan?

Trisna lain lagi kasusnya. Akibat tidak ada kecocokan bayaran atas lembur semalam suntuknya. Menjadi pengontrol bahan bakar pada mesin genset yang ada di area basement dua Wisma Mulia jadi penyebab pengunduran dirinya. Saya tak tahu harus berada di pihak mana. Trisna beranggapan bahwa lembur itu jika melampaui jam sepuluh malam. Maka tarif pembayaran pada karyawan harus naik. Namun pihak PT tak mau memenuhi keinginan Trisna. Sebenarnya dalam kasus ini ada dua kemungkinan penyebab. Trisna lalai bernegoisasi dengan PT perkara upah dari awal penunjukkan dirinya atas pekerjaan tersebut.  Atau mungkin pihak PT sudah memberikan penjelasan mengenai sistem upah lemburan bagi Trisna. Namun entah sebab apa Trisna akhirnya jadi memutuskan diri untuk berhenti bekerja. Mungkin juga ada pihak yang mengomporinya. Agar dia keluar. Atau ada salah satu staf kantor yang punya masalah pribadi dengannya. Sebab dia juga tipe pembangkang. Satu hal yang selalu mengingatkan saya padanya. Sebuah buku catatan harian masih kosong ia berikan pada saya. "Buat menulis", pesan dia waktu itu pada saya. Sampai sekarang buku itu tetap tersimpan oleh saya. Sebenarnya foto dia juga ada namun entah sekarang foto itu hilang kaya'nya.

Namanya Mitro. Karena berasal dari kota Metro provinsi Lampung maka kita sering memanggilnya dengan julukan Metro. Asal tempat jadi namanya sekarang. Lucu juga sebab dia tak kembali ke Jakarta. Sehari sebelum dia berpamitan untuk pulang. Siang hari yang lalu dia kesetrum. Pas menyambung kabel. Penyambungan kabel memang kerap jadi penyebab kecelakaan kerja. Hampir semua kabel pada bagian yang bermuatan setrum pasti ada power nya. Tidak ada istilahnya power mati. Lha kok ndilalah tang yang di pakai Metro saat itu dalam keadaan bocor. Tidak dalam keadaan utuh pada pembungkus gagangnya. Terang saja pas mengkaitkan pada kabel warna hitam. Dreeeeeeeeeeeddddddddddddddddddd, kontan setrum langsung menjalar melalui gagang yang tersentuh oleh jari jemarinya. Yang namanya kekuatan listrik sedikit tersinggung dengan konduktor. Jadilah tenaga dahsyat mengalir. Mending kalau seketika itu juga bisa terlepas ini malah seakan menyedot tubuh si Metro. Sebelum pada akhirnya dia terpelanting dan jatuh dari tangga. Untungnya masih lumayan mujur tangga jatuh di depan temapt Metro terjatuh. Dia tak jadi kena imbas sebuah perbahasa lama, "sudah jatuh tertimpa tangga", sejak saat itu dia memutuskan untuk pulang dan tak kembali lagi ke Jakarta.

Masih berlatar belakang Jakarta. Setelah Antok memberikan saran dan nasehat pada saya. Hari-hari saya jadi sedikit tercerahkan. Saya akhirnya dengan rajin lembur. Dengan kosekuensi pulang malam. Sering nyampai di rumah kontrakan jam sebelas malam. Saya di Jakarta tinggal bersama di sebuah rumah kontrakan bersama Bulek dan sepupu saya. Akan saya ceritakan nanti tentang kehidupannya. Sekarang saya masih ingin berbagi tentang cerita selepas kerja.

Malam cerita ibukota berubah menjadi kerlip-kerlip lampu yang indah berderet. Dari atas gedung lamtai 54 Wisma Mulia. Saya memerhatikan kehidupan dan ke ingar bingarannya. Saya duduk di atas landasan helikopter gedung tersebut. Bersama rekan kerja namanya Agus, namun karena saking gemarnya makan batagor. Teman-teman sekampungnya memanggil dia Tagor. Secara kebetulan Zaini yang merupakan saudara dia adalah kepala regu kami. Jadilah nama Tagor tetap eksis di lingkungan kerja. Saya dan Tagor melihat pemandangan yang ada. Menyaksikan betapa sibuknya kota ini. Anak Jakarta asli itu juga heran dengan kotanya. "Bay, lu lihat di bawah sana indah kan, tapi apa elu juga tahu kegelisahan mereka tentang kemacetan yang tak ada ujungnya itu?" "Kalo gak macet bukan Jakarta Gor". Ringan saja saya menjawabnya. "Udahlah lu jangan berpikir macem-macem, sekarang kita nikmati pemandangan yang ada. Kita rasakan angin dan bayangin kita lagi bikin video klip di atas sini. Anggap kita grup band yang lagi punys hit's-hit's yang laris manis, asik gak?" Kata saya meneruskan. "Bisa aja lu Bay, tapi ide bagus juga sih", Tagor meneguk air yang tadi dia bawa dari gudang sebagai bekal lembur di ketinggian ini. Waktu itu kita lagi memasang kabel power buat penerangan landasan helikopter para kaum Ekspatriat.

Pulang malam. Hal biasa hidup di kota ini. Naik bis kota adalah makanan sehari-hari. Terjebak macet adalah hal yang terlalu basi untuk diperbincangkan. Hidup di Jakarta tak cuma butuh kepintaran tapi juga kesabaran dan ketabahan menerima segala hal dan nasib. Pencopet. Hah, sebuah sindikat yang nyaris tak pernah ada habisnya di kota ini. Suatu malam saat berada dalam bis kota PPD 46 saya hampir menendang seorang pencopet yang akan masuk melalui pintu belakang armada angkutan darat tersebut. Dari arah Grogol bis kota itu berhenti di halte Patra Jasa. Tempat biasa saya menunggu kedatangannya. Awal peristiwa sang kenek bilang berpesan pada penumpang lainnya termasuk saya, waktu memasuki area Pancoran. "Awas ada copet, dijaga barang bawaanya". Saya yang kebetulan berada di pintu tersebut menghalanginya masuk. Dengan cara mengangkat kaki yang kanan. Bukan sok jadi pahlawan namun ini muncul atas dasar emosi akibat kelelahan bekerja man. Dia si pencopet akhirnya urung memasuki bis kota yang kami tumpangi. Kami aman.

Tapi entah ini kesialan atau kebodohan saya. Hari sabtu sore harusnya jadi hari berbahagia buat saya akhirnya jadi hari tersumpek saya selama hidup di Jakarta. Siang habis terima gaji. Selang beberapa jam gaji itu raib. Disikat oleh gerombolan pencopet empat orang mengerumuni saya. Saat hendak turun di halte Ciliwung. Jalan MT. Haryono Jakarta Timur. Mereka membentuk setengah lingkaran. Ada mengalihkan perhatian menghalangi jalan saya. Lainnya sok mencoba memberi isyarat pada sopir bahwa ada yang mau turun di hate Ciliwung. Tanpa dinyana uang saya pun raib di tangan pencopet. Apakah ini balasan dari perbuatan saya tiga malam yang lalu. Mencegah seorang pencopet mengais rejeki waktu itu. Sebenarnya kalau dirunut kejadiannya saya sendiri juga salah dalam mengambil keputusan awal. Terbiasa menunggu angkutan dari halte Patra Jasa ini malah pindah haluan. Halte depan Kantor Pos jalan Kapten Tendean Mampang jadi pilihan. Waktu itu saya ingat sampai sekarang. Bis kota warna hijau bernomor 57. Jurusan Pulo Gadung - Blok M atau sebaliknya. Pengen cari suasana baru malah ketiban apes.

Kejanggalan itu baru terasa saat saya menaiki jembatan penyeberangan pas si atas halte Ciliwung. Ketika saya meraba-raba saku celana jean's biru gelap. Waktu itu masih ngetrend model Cutbray atau komprang bawah. Memang hari itu saya lupa bawa dompet karena terburu-buru. Saya yakin kalau seandainya dompet itu tidak ketinggalan pasti tidak begini apes nasib saya. Sebab saya pasti akan selalu menempatkan dompet pada saku depan sebelah kiri. Ini malah uang saya selipkan di saku belakang. Mungkin salah seorang dari gerombolan pencopet itu sekilas melihat ujung lembaran uangnya terselip. Maka dengan mudahnya. Seperti layaknya kucing mendapati tikus yang terjebak. Lalu oleh si penjebak langsung dibuka pintu jebakan itu pas si kucing siap menerkam. Jadilah nasib saya akhirnya bergantung pada belas kasihan teman, saudara, dan tetangga selama seminggu ke depan.

Banjirrrrrrrrrrrrrrrr.........................!"

Hampir tak pernah lepas dari bencana tahunan ini. Cawang Pulo Kecamatan Kramatjati Jakarta Timur. Banjir adalah kata yang jadi andalannya. Tapi selama hidup di kampung tersebut bersama Bulek dan sepupu saya Chorine banyak kesan yang teramat sayang untuk terlewatkan. Ada seorang teman. Almarhum Galuh, setiap malam nungguin saya di ujung tikungan jalan kecil gang kampung itu. Pemuda asli Betawi biasa nongkrong di depan toko kelontong Pak Karyo. Pedagang yang lumayan sukses menjadi wirausaha di kawasan banjir ini. Banjir air juga banjir rejeki. Galuh selalu menunggu bersama Hendra akrab disapa Miu'. Sekarang si Hendra atau Miu' ini lagi mendekam di sel Cipinang. Akibat ulah ibunya yang menyimpan ganja hampir satu kilogram di rumah kontrakannya. Kebetulan juga saat terjadi penggerebegan dia tinggal di sebelah Bulek saya. Saat itu Miu' enak-enaknya tidur. Sedangkan ibunya tak tahu kemana perginya meninggalkan Miu' tanpa pamit. Tapi dasar nasib kalau sudah kena virus keapesan. Polisi menggerebeg kamar kontrakan yang sudah jadi target lama mungkin. Miu' yang tak tahu menahu tentang keberadaan barang tersebut walau bagaimanapun dia tetap diciduk. Dan demi menjaga agar nama ibunya tetap aman dia rela jadi tersangka. Sebagai balas jasa anak terhadap budi sang ibu.

Galuh, semasa hidupnya selalu sharing tentang musik dengan saya. Tentang cita-cita dia bikin sebuah band. Hingga dia ngebet banget pengen ikutan audisi pencarian bakat di salah satu stasiun televisi swasta negeri ini. Dia pengidola Ariel Peterpan. Namun segalanya tak harus teraih, Sang Illahi berkehendak lain. Memanggilnya lebih cepat untuk segera menghadap ke hadirat Sang Khalik.

Kampung yang identik dengan banjir ini punya warna ketika bencana itu melanda. Mulai mengamankan harta benda hingga mengungsi saya anggap hal yang asing buat saya. Siapa bilang banjir selalu mendatangkan kemurungan. Lihatlah para penghuni kampung Cawang Pulo, anak-anak kecil asik bermain air ketika banjir berangsur turun. Di malam hari saat terasa kampung ini layaknya kota mati. Suara jangkrik dan kodok yang bersahutan menjadi sebuah simphony orkhestra alam. Mengisi waktu yang seakan lamban. Listrik dalam keadaan padam. Namun coba kita tengok aktifitas apa saja di sudut lain. Dalam gelap, pos kamling utara kuburan, gerombolan pemuda membentuk kelompok asik menikmati minuman anggur. Menghangatkan tubuh. Biasanya yang tadi siang mengais pundi-pundi rejeki lewat jual jasa mengangkut barang. Dengan perahu gabus jadi sarananya. Selain mengangkut barang juga para orang tua yang tak mampu berjalan layaknya usia muda ketika banjir melanda. Lumayan dengan ongkos seribu perak sekali tarik. Terkumpulah uang untuk menikmati suasana. Mengungsi di sebuah area pemakaman umum. Yang letaknya relatif lebih tinggi.

Cawang Pulo merupakan kawasan bekas rawa-rawa yang kering, aluvial. Jadi tak menutup kemungkinan daratan tersebut jadi sasaran air di saat musim penghujan. Atau disaat sungai sudah tak mampu lagi menampung debit aliran air dari kota Bogor. Sungguh menggenaskan sebenarnya. Tapi apa mau dikata di kawasan tersebut orang sudah turun temurun menghuninya. Sebagai lahan mencari peruntungan dalam hidup ini.

Ahh Banjir saya jadi teringat Kartini. Gadis bertubuh langsing berambut lurus yang kini sudah jadi istri orang. Dulu sempat menggetarkan segenap isi sanubari saya. Andai saja saat itu Ole, pemuda asli Betawi itu. Tidak berkeinginan untuk kembali pada Kartini. Saya pasti dengan segera mengisi sebagian relung jiwanya. Ole itu temen akrab dengan saya. Dari cara dia menatap Kartini saya tahu dia punya rasa yang tak biasa. Ternyata mereka berdua, Ole dan Kartini sempat memagut kasih. Tapi Kartini tak sepenuh hati menerima Ole jadi sang Arjuna nya. Jadilah kisah cinta yang timpang. Bertepuk sebelah tangan. Seandainya saja dulu saya tak tahu tentang cerita itu. Nyali saya tak akan menciut untuk mengatakan, "Kartini gue pengen elu jadi bagian hidup gue", kalau suruh memilih mendingan saya tak pernah tahu tentang kisah Kartini dan Ole. Sehingga saya tak ada rasa canggung menungkapkan hal yang sebenarnya mendera kalbu ini.

Waktu tak akan pernah bisa kembali terulang. Rambutnya dan gelak rinai tawanya. Gaya dia bermain air. Kala banjir mulai berangsur surut seukuran pinggang, adalah warna tersendiri. Adalah gambaran pelangi ketika menghadapi kelesuan. Langkah kakinya yang jenjang mungkin tinggal kenangan. Dan terakhir, saya cuma bisa menutup cerita ini dengan, Apakah "Ini Tentang Rasa" yang tak biasa....................