Tuesday, February 7, 2012

Kemudian..

Madiun, 6 Februari 2012....
23.17 WIB...

Kemudian aku masuk ke kamar. Membuka lembar-lembar cerita dalam buku itu lagi. Larut mengikuti alur sayap yang telah patah antara Gibran dan Selma. Tak lama kemudian. Selang beberapa menit. Aku telah menuntaskan perjalanan berfantasi di tanah Lebanon. Itulah sederet cerita tentang malamku sesaat lalu. Setelah aku menghabiskan lima butir coklat berisi kacang mete yang gurih. Tadi di meja makan. Sambil menikmati sebotol air dingin yang segar. Sebelum pada akhirnya aku kemudian mengintip kisah mereka berdua.

Masih dalam kamar ini pikiranku terus saja menggelayut. Laksana kereta api melaju di atas rel, dan sejenak berhenti (singgah) guna mengurangi dan mengangkut penumpang di stasiun.

Aku jadi teringat tentang kegiatan pagiku yang lumayan lama aku tinggalkan. Selepas subuh. Kemudian aku berjalan mengisi waktu pagi di kota ini. Menyusur dari arah gapura Donopuran* terus ke arah barat. Lalu aku ke kanan dan terus melaju, utara menjadi arah tujuannya. Seperti arah kompas yang selalu menunjuk arah ke utara. Walau bagaimanapun kita memutar benda tersebut. Namun patokannya akan tetap arah utara, north.

(*)  Sebuah lingkungan kecil yang merupakan tanah perdikan (bebas pajak) pada jaman dulu kala. Ketika kerajaan Mataram Jogjakarta masih berdiri.

Kemudian  aku mencari tempat yang nyaman di tengah Alun-alun kota ini. Aku berada di bundaran tengah, tanah lapang simbol kebanggan kota ini. Duduk masih dengan menghadap utara. Sejurus dengan langkah perjalanan menuju tempat ini. Di bawah tiang yang menjulang tinggi. Bersandar pada dinding yang berfungsi sebagai penahan tiang dan penghias bagian tengah bundaran ini. Bentuknya lumayan artistik.  Bila hari mulai gelap lampu slorot lampu di atas tiang ini. menembakkan cahaya yang benderang. Menambah unsur estetika tempat ini. Cukup banyak kawula muda menumpahkan ide kreatif mereka di sini. Menjadikannya sebagai latar belakang saat berfoto. Ada pula yang berjualan aneka kebutuhan pengganjal perut serta mainan anak-anak. Warna biru kalem membungkus dinding ini. Disela-selanya masih terdapat ruangan bebas yang cukup untuk tempat hidup tanaman hias. Mungkin memang sengaja didesain seperti itu oleh si perancang. Agar terkesan anggun dan lebih hidup. Jadilah ada kesan artistik dan flamboyan. Terlebih jika kembang kertas lagi bersemi.

Sedikit ke timur dari tempat saya duduk menikmati pagi. Tak sampai 100 meter ada tempat berterapi kesehatan. Berjalan di atas batu-batu kerikil. Lengkap dengan pipa ukuran setengah inch mungkin pada luasnya. Sebagai pegangan untuk tangan ketika berjalan. Membentang utara ke selatan. Walaupun tidak murni lurus ke arah tersebut. Agar para pengguna sarana tersebut merasa aman dan nyaman. Melakukan aktivitas tersebut.

Saya masih terlalu enggan melakukan itu semua. Bukan karena malu ataupun gengsi. Atau mungkin saya punya sifat sedikit menyepelekan arti kata hidup sehat. Sebab saat itu dalam hati bergumam lirih, "aku isek urong perlu terapi koyo ngono kuwi, lha wong aku iki isik nom kok" (gue masih belum perlu terapi yang kaya' gitu, sebab gue masih muda).

Kemudian, pandangan saya lagi-lagi harus teralihkan. Apa pasal? Irama musik Dangdut Koplo terdengar dari arah utara saya duduk santai. Iramanya tak murni lagi, sudah tercampur warna remix yang menambah meriah suasana. Berduyun-duyun orang datang mengarah ke tempat asal musik yang membahana itu. Membentuk barisan tanpa harus ada komando yang resmi. Masing-masing membentangkan tangan guna mengatur jarak antara satu dengan yang lainnya. Irama Dangdut Koplo bernuansa remix itu seolah mensyiarkan pesan, "waktunya senam pagi", kepada para peminatnya.

Seorang instruktur menjadi yang paling depan. Dengan microphone nya dia memberi arahan tentang gerakan senam pagi ini. Kostum senamnya selaras dengan suasana pagi ini. Ceria. Pink mengilap berpadu celana senam hitam, yang panjangnya sedikit di atas lututnya. Bandana putih melingkar membatasi gerak rambutnya. Tampak serasi dengan wajah, dan gerakannya. Aduhai gaya nya dan gerakannya yang energik. Berpadu dengan irama musik Dangdut Koplo bernuansa remix yang mengalun dan rancak. Sementara para pesertanya juga tak kalah seru. Tua muda, lelaki perempuan tak peduli dari golongan, dan latar belakang hidup yang bagaimanapun. Turut serta kegiatan tersebut. Saya jadi semakin sadar bahwa, "kesehatan adalah tuntutan semua manusia, merupakan hak yang wajib dan terus diperjuangkan oleh setiap insan manusia, yang hidup di alam ini".

Namun, saya cuma bisa mengamati dari jauh. Tanpa pernah punya nyali untuk ikut serta dalam kemeriahan minggu pagi di Alun-alun kota ini. Hanya berharap bahwa apa yang saya lakukan ada manfaat bagi kelangsungan hidup saya. Kemudian.....

....................

Kemudian, saya tersadar kembali, bahwa sekarang sedang berada dalam kamar ini. Kemudian saya melihat jarum jam yang menunjukkan pukul 01.30. Kemudian saya cuma bisa berkata pada diri sendiri, "waktunya tidur untuk daerah Madiun dan sekitarnya"......


No comments:

Post a Comment