Sometime, entah berapa puluh tahun lagi. Tempat ini. Masjid ini akan menjadi tempat yang saya rindukan. Di sini banyak waktu saya habiskan memikirkan dirinya. Berkhayal tentang dirinya. Si gadis pujaanku. Bertanya dalam hati, "apakah harinya sedang mengasyikkan atau malah membosankan, sedang luangkah atau malah tertimbun dalam seabrek tugas kantor?" "Sekarang apakah dia mengenakan kaos merah berkerah, lengan sebelah kanan kalau tidak salah, ada bordiran angka 3?" Ah betapa jelitanya dia. Gadis impian, motor maticnya juga warna merah, produksi Honda. Rasanya waktu begitu lama jika kulalui tanpa sekali saja mengintip senyumnya.
Memerhatikan lekuk wajahnya memang tak membuatku bosan. Kenapa saya begitu segila ini padanya. Pada mahkluk betina. Naif memang jika aku terus menerornya dengan khayalan-khayalan. Juga sangat konyol kiranya jika aku terus saja tersesat dalam blantika khayalan.
Apa sih enaknya berkhayal? Tak ada yang tahu persis jawabannya. Namun bagi saya ini adalah cara paling efektif untuk membunuh kebosanan. Kebosanan akan kemonotonan. Suasana rumasakit, deretan orang tergolek lemas di atas bangsal-bangsal, antrian para keluarga pasien menebus obat, antrian panjang di loket utama, lembaran-lembaran berkas yang sudah terkopi seolah menjadi semacam surat sakti. Agar mendapatkan fasilitas gratis.
Menilik soal biaya rumasakit yang gratis. Memang sih semuanya gratis tis tis, tanpa ada sepeserpun biaya kita keluarkan untuk pihak rumasakit. Namun coba tengok berapa besar biaya hidup di sini? Tak punya sanak family di sini, sementara yang namanya rawat jalan itu pasien tidak mendapat jatah tempat untuk tidur dari pihak rumasakit. Tapi itulah jalan hidup, hingga terjadilah yang namanya aliran rejeki. Bagi siapa? Bagi masyarakat yang memiliki rumah, di sekitaran area Rs. Dr. Soetomo Surabaya. Jasa-jasa persewaan kamar dengan nama keren di sini kos harian berkembang. Bak jamur yang tak kenal musim, bisnis ini lumayan menjanjikan. Asal ada rumah bisa dibagi minimal 3 kamar cukuplah kalau hanya untuk biaya hidup sehari-hari dalam takaran normal. Tidak boros, hedonis, lebih bagus lagi bisa berhemat. Menabung. Siapa tahu di suatu hari nanti uang hasil menyewakan kamar bisa untuk biaya memperbaiki rumah. Yang secara otomatis juga mendongkrak harga sewa kamar kos.
Bayangkan saja, kamar yang hanya cukup diisi satu ranjang di sini dihargai 35ribu sehari semalam. Jika agak besar ada secuil tempat buat satu orang shalat saja sudah 40ribu.
Ada yang berfasilitas AC umumnya 55ribu sehari semalam, tapi itupun juga tergantung luas kamarnya, ada di lantai atas atau bawah. Cerdik memang mahkluk yang bernama manusia memanfaatkan celah untuk meraup rejeki.
Namun terkadang juga terasa klise bila mengingat siapa dan bagaimana latar belakang si penyewa kamar kos. Saya cuma mampu menggerutu, tanpa bisa menyimpulkan. Jika menilik mayoritas para penyewanya adalah kaum pesakitan, manusia-manusia urban dalam konteks urban paksaan. Dipaksa melakukan migrasi oleh keadaan, oleh kondisi. Kondisi hidup yang sedang kurang mujur. Penyakit menjadi biang atas migrasi itu. Dan yang namanya penyakit tidak pernah memilih kepada siapa dan bagaimana kondisi ekonomi, dia penyakit itu tetap saja bergeming. Maju terus. Serang, toh juga karena adanya dia akan ada para ahli-ahli yang berpikir. Tentang penawar, obat penyembuh, cara penanggulan.
Penyakit itu adalah suatu masalah yang menimbulkan masalah baru. Suatu sebab yang memiliki berbagai macam akibat. Ada penderitaan bagi yang terjangkit, ada tanggung jawab harus mengurus bagi sanak family, ada pula aliran rejeki berupa pekerjaan, profesi-profesi baru. Bagi pihak yang diuntungkan. Bukan diuntungkan sih. Melainkan pihak yang diberi tanggung jawab oleh Yang Maha Kuasa tentang efek atau akibat positif atas munculnya hal yang disebut sebagai penyakit. Itulah penyakit.
Kembali pada bab kos harian. Alangkah lebih mulia jika para pemilik kos-kos'an itu sedikit memiliki empati kasih dan kepedulian. Terhadap sesama manusia. Manusiawi. Dengan menurunkan harga sewa kamar kos. Itu saja sudah cukup. Bagi kami.
Alamak tapi pasti persoalan akan muncul lagi. Ini jaman sudah edan, semua terbeli, terbangun karena uang. Jadi untuk apalagi Kalau semua yang telah ada di sini bisa jadi seperti sekarang ini karena uang? Kalau tidak untuk mencari uang lagi, untuk apa coba?
Uang, uang, dan selalu uang adalah satu hal yang menjadikan manusia memiliki ambisi. Libido nya seperti bangkit jika ada slentingan kata duit, alias uang di ujung benak pikiran. Uang itu progres semua manusia. Bahkan saking progresnya uang itu ibarat mahkluk yang cantik, mahkluk yang rupawan. Manusia lupa akan asal penciptaannya. Bukankah manusia itu masterpiecenya Tuhan? Tapi kenapa sekarang kok malah memperhambakan diri pada mahakaryanya sendiri. Yaitu uang. Kesimpulannya adalah jaman sudah semakin berat. Berat gilanya. Berat nafsu-nafsunya. Berat ambisinya. Pokoknya berat dan berat....
Saking beratnya hingga banyak yang tak peduli dengan berat beban orang lain. Sudah harus menerima nasib sebagai seorang pesakitan, berobat jauh dari sanak family. Harus pula tergencet dengan masalah menginap harga sewa kamar yang entah bagaimana rumusnya, hingga ketemu hasil tarif selangit.
Tapi hidup adalah dua bagian berbeda yang selalu terkait. Bila memang ada banyak orang yang memiliki kepedulian pastinya Tuhan juga telah menyiapkan jumlah sebanding. Akan ada manusia~manusia dengan kepedulian tinggi muncul dengan sendirinya. Saya percaya itu. Manusia. Kemanusiaan. Kepedulian. Akan tetap ada di bumi ini.
Saya juga wajar, maklum dengan tarif tersebut. Selain biaya serta ongkos membangun, membenahi rumah sangat membumbung tinggi, ada masalah lain. Ini Surabaya bung, metropolis menjadi kategori kota ini. Bukan lagi kota Pahlawan. Karena jaman sekarang bicara bab sejarah, pahlawan, perjuangan tidak sedikit orang yang mencibir. Dikatakan sebagai hal basi lah, tak cocok dengan jaman lah. Inilah jaman, terkadang banyak kesalahkaprahan dalam mendefinisikan relatifitas. Semua dianggap relatif. Tak peduli sebab ada sejarah, sebab ada masa lampau maka terjadilah peristiwa sekarang. Sepertinya sekarang kita sulit menghargai kiprah~kiprah manusia masa lalu. Pahlawan itu tinggal menjadi sebuah cerita, menjadi bahan pelengkap kurikulum sekolah. Setelah itu semua berganti, tak ada lagi pahlawan, jasa, perjuangan, revolusi, kegigihan mengusir bangsa asing dari ranah bumi pertiwi ini. Sekarang ah malah ucapan selamat datang beribu-ribu kata ramah tamah, mempertontonkan sopan santun, memamerkan kekayaan alam. Dan seolah seperti memberi isyarat pada bangsa asing, "ini kekayaan kami tak tergodakah kalian, hey bangsa asing, untuk memiliki sebagian dari yang kami banggakan?"
Alamak. Nasi sudah menjadi bubur dan akhirnya hancur sudah. Kacau balau semua kini tinggal cerita. "Tanah ini dulu punya kakek nak, sebelum akhirnya jadi seperti ini", cerita seorang lelaki pada anaknya. Sambil menunjuk ke arah bangunan di atas tanah yang dulu milik leluhurnya. Kini berubah jadi mall. Pengusaha berdarah Tionghoa pembelinya. Deretan toko~toko berjajar di pinggir jalan. Tengah kota malah siapa pemiliknya? Pribumikah? Yang tersisa mungkin hanya secuil tanah dan bangunan itupun ada di pojok, terinisiasi, tersisih dari percaturan ekonomi. Tak banyak yang berminat, kata ramalan kuno dari negeri leluhur mereka di RRC sana tak tepat untuk dagang.
Bangsa pribumi hanya bisa berperan di kampung~kampung. Masuk gang~gang sempit membikin usaha yang juga sempit pemasarannya, sempit konsumennya, sempit labanya, sempit pula jatah sisa dari dagangannya buat biaya hidup sehari~hari.
Hingga pada akhirnya setelah dirasa tak kuasa menahan himpitan ekonomi. Para manusia pribumi melepaskan kemandiriannya. Keluar kampung, melarikan diri dari gang~gang kecil. Keluar ke jalan raya. Mengintip adakah celah, peluang untuk berpenghasilan lebih dari apa yang mereka usahakan selama ini. Deretan bidang~bidang usaha mulai toko pakaian, sembako, tempat hiburan, sampai bengkel, toko asesoris mobil dan motor tersedia. Dan apa kesimpulannya? Tionghoa yang telah beranak pinak ternyata semakin kuat mencengkeram negeri pertiwi ini. Lalu berbondong~bondong rakyat pribumi menjadi budak di rumah sendiri. Alamak berat nian perjuangan mengusir bangsa asing dari ranah pertiwi ini. Penjajahan secara fisik hilang memang, namun ekonomi membabibuta malahan.
Benar apa kata sang Napoleon tatkala berucap, "biarkan China tertidur, suatu saat nanti akan tiba waktunya raksasa itu akan bangkit mengguncangkan dunia".
No comments:
Post a Comment