Showing posts with label sabang sampai merauke. Show all posts
Showing posts with label sabang sampai merauke. Show all posts

Tuesday, January 31, 2012

"Senyum Untuk Indonesia"

Sebelum lebih jauh kita melangkah. Ada baiknya nikmati sebuah persembahan yang sederhana dari saya ini. Dalam tembang hasil dari proses saya belajar selama ini. Barisan kata yang sederhana juga nada yang simpel untuk dimainkan. Di bawah ini saya coba untuk menuliskan lirik dan kord nada nya. Klik saja judul lagunya, maka teman-teman sekalian bisa menikmati persembahan yang sederhana ini. Selamat menikmati..
 
"Senyum Untuk Indonesia"


 A             F#m    E      A      F#m            E
Apa perlu kita sikapi. Segalanya telah terjadi..........
D                           E          E                         E
Semua saling menantang. Lantang bagaikan perang........

A              F#m         E      A        F#m             E
Bila harus kita mengkaji. Lebih dalam kita menggali.......
D                           E     D                     E
Asal semua berlubang. Pasti terlihat terang........

A                        E              D               E
Bangkitlah Indonesia tunjukkan pada dunia...
                 
 F#m                      D   F#m                  D
Apa yang telah terjadi  tak perlu kita sesali.....
 F#m                    D
Tak perlu kita tangisi........
                D     E       A
Karena kita sudah teruji.......
              D      E       A
Indonesia sudah teruji.......
              D       E      A
Tersenyumlah Indonesia.....


Ladies and gentleman. Bapak-bapak. Ibu-ibu. Para sahabat, teman karib di manapun berada. Dari sabang sampai merauke yang berjajar pulau-pulau ini. Lalu akan sambung menyambung dan itulah, negara kita. Indonesia. Wah jadi kena efek lagu-lagu nasional nich. Lagu yang begitu heroik hasil dari gubahan  komponis R. Raharjo. Tapi tak apalah. Malah lebih bagus begitu. Berarti jiwa nasionalis saya masih tetap terjaga utuh dalam sanubari. Lubuk hati terdalam ini.

Kepada segenap kawan dan kawin handai taulan. Saya mau tanya nih. Apakah kodrat hidup manusia memang ditakdirkan untuk melakukan sebuah penyimpangan norma? Pemberontakan atas sebuah aturan, baik yang tertulis ataupun yang tidak tertulis. Mungkin ini sebuah pertanyaan klasik yang memang tak perlu untuk kita menjawabnya. Tapi mungkin tanpa harus menjawabnya pun kita barangkali pernah melihat dan merasakan jawaban itu. Sebagai contoh cerita di bawah ini :

Ahh, tiga minggu yang lalu ketika saya menjadi penunggu di RSU Dr. Soedono Madiun. Karena sepupu saya sedang dirawat di sana. Penyakit liver yang akhirnya menjadi penyebab dia meninggal dunia. Ceritanya ada di tulisan saya sebelumnya "Refreshing My Body". Suasana rumah sakit seperti pada umumnya. Apalagi kelas ekonomi. Sebuah ruangan khusus untuk para pasien yang harus merengek pada pemerintah setempat agar mendapatkan perawatan gratis. Sumpek, gerah, mana banyak pasien lain yang juga menjadi penghuni. Belum lagi terkadang atau bahkan sering. Terjadi rasa ketidakcocokkan antar keluarga pasien. Yang satu ingin kipas  angin dinyalakan, namun di pihak lain merasa terganggu dengan kipas angin itu. Tapi sebenarnya ada pelajaran yang menarik disela-sela kemonotonan-kemonotonan itu. Kita juga lebih bisa saling menghargai dan menghormati antar manusia. Istilah yang keren untuk masyarakat Jawa "tepaselira", satu kata yang memang menjadi ciri khas suku ini. Bukan hidup memang bila tidak ada hal yang menarik untuk dijadikan cerita. Sebab hidup akan lebih menggairahkan bila kita punya cerita yang bisa kita tuangkan dalam bentuk karya. Asal positif. Seperti yang akan menjadi lakon di cerita bawah ini :

"Gila", cuma itu yang bisa saya ungkapkan ketika menjaga sepupu saya di rumah sakit. Seperti cerita sinetron yang berjalan monoton sebenarnya. Namun terlalu sayang juga kisah ini saya lewatkan begitu saja. Diantara kondisi yang rumah sakit yang begitu membosankannya, bisa-bisa saja cara manusia menikmati agar terkesan rilek's. Seorang tetangga saya. Juga sobat karib dari almarhum sepupu saya. Orang sekampung biasa memanggilnya dengan nama Uus. Atau juga bisa dipanggil cucur, "ya kan bibirnya dower kaya kue cucur", tapi dibalik ke dower'an bibirnya itu ternyata tersimpan pesona yang luar biasa. Apakah itu?"

Tuhan, tak pernah menakar segala sesuatu di alam raya ini dengan timbangan yang timpang. Semua-muanya pastilah seimbang. Terbukti pada diri kita. Atau sebagai contoh dalam cerita ini adalah Uus. Di balik dower bibirnya ternyata dari bibir itu mampu terlontarkan mantra-mantra cinta yang sungguh mampu menggeleparkan hati kaum hawa. Uus yang notabene telah beranak satu dari istri setianya ternyata tidak cukup puas dengan satu cinta. Dan terjadilah hal yang sebenarnya basi untuk  dijadikan bahan obrolan, yaitu perselingkuhan.

Iin namanya, wanita umuran 21 tahunan juga telah memiliki suami dan anak satu. Tapi apalah daya ketika dirinya dihadapkan pada kelihaian olah kata si Uus. Bak seorang pujangga dari daratan Timur Tengah. Yang begitu agung. Layaknya Gibran dari Lebanon dengan syair-syair yang membuai jiwa. Apalah arti seorang suami yang bekerja di perusahaan yang bergerak di bidang pelayaran. Bila dibandingkan dengan senandung rayuan mautnya si Uus. Ah dasar segala sesuatunya ternyata tak bisa dinyana begitu saja. Suami yang sebenarnya mapan, punya perawakan yang gagah sebenarnya. Saya sempat diperlihatkan foto suami dan anaknya. Melalui galeri ponselnya. Waktu sore hari ketika dia berbincang dengan saya di bangku ruang tunggu sebelah barat ruangan para pasien, sembari menonton tv. Sebelum pada akhirnya dia pulang ke rumahnya. Daerah Kare Kabupaten Madiun menurut keterangannya.


Di malam harinya ketika saya, Dodik, dan Agung Teko berkumpul. Juga ada Uus pula di situ. Sambil rebahan kita mengobrol. Dodik posisi duduk bersila. Agung Teko dengan menyelonjorkan kedua batang kakinya. Sedang kedua tangannya menyangga berat badannya. Agar tetap nyaman duduk. itulah posisi duduk ala Agung Teko yang jadi ciri khasnya. Bila sedang duduk di bawah atau tanpa kursi. Kami berempat mengobrol dan bercanda ringan. Terkadang ada gelak tawa kecil menyeringai antara kami. Sebab biarpun terkadang kami terkesan sedikit agak kurang ajar. Namun kami tahu di sini adalah tempatnya orang sakit dirawat. Jadi perlu ketenangan. Suasana seperti inilah yang akhirnya jadi bumbu pelepas kelesuan di rumah sakit bagi para penjaga. Almarhum sepupu saya sebenarnya cukup beruntung. Punya banyak teman yang lumayan loyal dan setia. Di setiap malam menjaganya saat dirawat di rumah sakit. Benar-benar sebuah pengorbanan yang layak untuk dikategorikan mulia.

Kali ini bahan perbincangan kita bertambah satu. Kalau yang kemarin kita cuma punya dua bahan yaitu si Moelyono akrab disapa Moel. Dia selalu jadi bahan lelucon karena disamping bertubuh tambun  secara otomatis punya kebiasaan yang lumayan ajaib dong. Setelah perut kenyang cuma satu pekerjaannya yaitu borok, singkatan dari tibo ngorok. Maksudnya kalau sudah kenyang dan merebahkan tubuhnya pasti langsung pulas tertidur. Dan satu lagi tentang Ade, cowo yang akrab kita sapa kentir. Sebenarnya si Ade ini punya latar belakang keluarga yang cukup terpandang. Ibunya adalah manajer salah satu hotel di Madiun. Keluarganya juga termasuk golongan darah biru, tapi mau bagaimana lagi. Bagi orang lain terlebih teman-temannya. Cuma bisa melihat orang dari sikapnya. Ade memang tergolong aneh.  Sudah tahu si Dodik mengajaknya bareng naik motor waktu pulang dari rumah sakit. Dia malah kekeh menolak. Alasannya simpel pagi hari waktunya berolahraga. Jalan kaki jadi pilihannya. Padahal kalau dirunut dari apa yang dia lakukan semalam lucu juga sih. Masa' semalam menenggak arak, pagi harinya dipakai olahraga. Dan kita pun tahu berapa jam sih orang bisa tidur di rumah sakit?"

Sifatnya juga slengean. Tapi selama saya kenal dia, sebenarnya Ade tipe manusia yang bertanggung jawab. Dia tidak akan pernah lupa kepada siapa dan warung mana saja dia berhutang. Berapapun jumlahnya dia pasti ingat. Ade selalu mencatat dan merinci setelah sampai di rumah. Dia menyadari tentang kelemahan daya ingatnya. Oleh karena itu. Semua orang juga hampir tidak pernah bermasalah dengan Ade menyangkut masalah uang dan utang piutang. Namun apa yang sering kita candakan tentang Ade tak lebih dari guyonan. Dia pun juga paham akan hal itu.

Namun di malam ini lain. Kisah antara U dan I ternyata mampu menggantikan peran Ade dan Moel. Apa sih U dan I ? Kok pakai singkatan segala jadi bingung nih menerkanya. Upin dan Ipin ya? Bukan. Lalu apa dong?"

Begini saudara-saudara sekalian. U dan I adalah singkatan dari dua nama yang sedang bimabuk kasmaran. Pelan-pelan saja jangan berisik. Takut didengar negara tetangga. Sebab entar malah kita dituduh mencuri karya mereka lagi. Yang padahal karya anak negeri Indonesia lah yang kerap kali mereka curi dan duplikat. U adalah Uus. Lalu I adalah Iin.

Kisah mereka berdualah yang kini jadi bahan pergunjingan. "Kowe ojo neko-neko Cur-cucur, bojone cah  wedok kuwi pelayaran lho. Mestine  duwe kenalan aparat lho. Nek konangan awas lho kowe" (Elu jangan macem Cur-cucur, suami cewek itu kerja di pelayaran lho. Pasti punya kenalan banyak aparat. Awas lu kalo ketauan). Dodik coba mengingatkan Uus. "Ben thokno wae, nek kenek apes'e ben dibedil cangkem'e sing dower ben tambah gak iso mingkem" (Biarin entar kalo pas dia lagi apes, biar ditembak bibirnya yang dower itu biar tambah gak bisa mingkem). Si Agung malah memberi saran pada Dodik, sebagai wujud kekesalan pada Uus. Yang masih teguh pada keputusannya. Tetap melanjutkan kisah itu. Bahkan kata-kata dari saya, "siapa menabur angin pasti akan menuai badai", cuma suara yang mampir di telinga Uus.

Anjing menggonggong khafilah tetap berlalu. Biarpun semua jenazah yang ada di kamar mayat rumah sakit ini bangkit. Uus tidak akan gentar menghadapinya. Itulah semboyannya. Iin harus tetap dia pertahankan, walaupun apa yang terjadi. Dan terakhir kali kata yang bisa diucapkan Dodik dan Agung Teko cuma satu, "angel", dalam artian sulit untuk dibilangi.

Namun sebenarnya jika semua orang tahu atau setidaknya pernah berkumpul Uus semenjak kecil pastinya tahu tentang keanehan sikap dan perilakunya.Saya mungkin sedikit banyak telah hafal tentang perangai bawaan dari masa kecilnya. Kita sering kumpul dan bermain bareng. Jadi tak aneh ketika mendapatkan keganjilan dalam sikapnya. Berikut satu keganjilan yang sampai sekarang masih saya ingat. Diantara keganjilan-keganjilan sikapnya itu. Ada satu mungkin yang layak untuk saya jadikan bahan cerita.

Desir angin menderu mengoyak sebuah kelambu hitam nan pekat.
Lalu menyibak sebuah tabir rahasia di balik kelambu itu.
Dan terungkaplah segala sesuatunya....

Seharusnya ada sebuah soundtrack yang mengiringi deretan kalimat di atas. Sehingga aroma dramatis dan mistisnya bisa mengena. Cuma saya bingung aja pilih musik yang bagaimana. Atau lagu bertema apa. Sebab nanti malah gak nyambung sama alur ceritanya lagi. Pilih lagu "To Breath Earth At Now" saya juga merasa bahwa lagu tersebut belum cukup mumpuni bila harus dijadikan sebuah tema tulisan. Ah kok jadi mikir masalah lagu pengiring cerita sih. Langsung saja kita menelusuri jejak-jejak masa kecil. Sekelompok bocah yang selalu mampu mengisi kegiatan hari minggu dengan hal-hal menarik.

Masa kecil kami ternyata termasuk dalam golongan yang menarik untuk dijadikan cerita. Kami bukan tipe bocah-bocah yang kerap membeli mimpi dengan cara yang mudah dan gampang. Sebut saja ketika kami ingin memiliki seekor jangkrik. Tak lantas kita langsung menjulurkan telapak tangan kami pada orang tua. Bukan takut tidak dikasih. Cuma kami cukup menyadari, asal di rumah sudah ada nasi untuk dimakan. Kami juga tak mau lagi merepotkan orang tua dengan hal-hal yang berhubungan dengan kegemaran kami. Cukuplah orang tua menjadi penopang biaya makan, listrik, dan sekolah kami. Dan hobi kegemaran kami juga tergantung musim. Saat musim layangan bermain layangan. Begitupun seterusnya. Terkadang kami memungut rambutan-rambutan yang jatuh dari sebuah truk. Saat berada di pasar Sleko. Demi sebuah mainan atau kegemaran.

Waktu itu adalah musim pelihara binatang jangkrik. Biasa kami mengadu binatang tersebut. Seperti biasa hari minggu yang cerah. Bebarengan dengan musim rambutan. Kami mengisinya dengan diawali bangun selepas subuh. Kondisi yang masih terlalu pagi membuat waktu kami sangat luang. Kami pun beranjak ke pasar Sleko mencari dan memungut sisa-sisa rambutan yang jatuh. Kami kumpulkan kemudian kami menjualnya. Dan sampailah kita pada momen yang paling mengembirakan. Selepas menjual, kita menikmati. Menggunakan hasil jerih payah itu untuk kesenangan kami.

Tapi entah apa yang ada di dalam otak si Uus waktu pagi itu. Apa yang dilakukannya benar-benar membuat segalanya berantakan. Uang sudah ada di dalam saku. Cukup untuk membeli dua ekor jangkrik dan sisanya bisa buat jajan. Tapi ah, dasar setan tak peduli kepada siapa mahkluk itu menggoda dan membujuk. Bahkan untuk anak sepuluh tahun, tak ada pengecualian.

Pak Bonasir, saya masih ingat betul perawakannya. Penjual jangkrik asal kota Reog Ponorogo, pada waktu itu benar-benar habis kesabarannya. Penjual yang lumayan lama jadi langganan saya, Dadang, Epin, almarhum sepupu saya Ekwan, Catur, juga Uus akhirnya murka di pagi itu. Dan seperti orang tua yang murka pada anaknya, ternyata kemurkaannya itu bukan cuma sekali sebab. Melainkan ini yang kedua kalinya. Menjadikan dia sampai marah.

Sedang asik-asiknya pak Bonasir mengili (menggelitiki jangkrik agar mau berbunyi dan menampilkan kegarangannya) kami datang menyaksikan. Ternyata memang benar itu jangkrik nomer satu. Jadi andalannya di hari itu. Berharap dari jangkrik tersebut mendapatkan hasil uang yang lebih. Lalu dari situlah timbul hasrat dari Uus untuk memiliki hewan tersebut. Supaya bisa mengalahkan jagoan-jagoannya si Dadang, yang saat itu juga berada di situ. Namun keinginan tersebut ingin dia lakukan dengan cara yang tidak jujur man. Dengan cara ngutil, maling, mencuri. Dan semakin lama tak terbendung keinginan itu. Serta alampun sepertinya memberi restu padanya. Seiring dengan semakin membumbungnya keinginan itu. Datang seorang perempuan penjual jamu racikan khas Jawa. Biasa dari bahan dedaunan atau dari kunyit, jahe, dan kencur. Seperti layaknya penjual jamu keliling di kampung-kampung. Langkahnya pasti dengan kaki dan pingganag terbalut jarik motif batik. Bajunya kebaya ala Solo. Membuyarkan konsentrasi pak Bonasir. Memang dia, si Bonasir adalah penggemar jamunya. Lalu mampirlah dia dan mendekat kepada Bonasir. Sambil membetulkan letak kacamata tebalnya pak Bonasir bilang, "biasa Mbakyu godong kates campur paitan ireng" (Biasa Mbak, daun pepaya campur jamu yang rasa pahit warna hitam). "Nggih pak" (Ya pak). Singkat saja lalu segera dia menurunkan bakul yang dia gendong kemana-mana itu.

Uus begitu cepat dan tangkas mampu membaca kesempatan itu. Pak Bonasir yang segera menutup kandang jangkrik segera menyambar gelas berisi jamu itu. Hampir meluber isinya. Sebab tergoyang tatkala pak Bonasir meraihnya. Geg...geg....geg.... sedikit demi sedikit jamu mulai mengalir di tenggorokannya. Begitu nikmat dia mengalirkan segelas rasa pahit itu. Sekelebat tanpa disadari bahwa itu adalah pertanda pahit dalam harinya saat itu. Uus dengan reaksi tak memperhitungkan resiko langsung menjalankan aksinya. Mencuri jangkrik tersebut. Dan merupakan aksinya yang bukan pertama kali. Minggu yang lalu ternyata Uus juga melakukan hal tercela tersebut pada pak Bonasir.

Namun sungguh sayang seribu kali sayang. Burung yang pintar untuk terbang suatu ketika bisa juga peluru menembus tubuhnya. Rusa yang begitu kencang berlari ketika nahas melanda kecepatan larinya itu seolah tak berguna. ketika macan berhasil menerkamnya. Begitupun juga Uus. Selihai apapun seseorang menghindari bahaya, tak selamanya akan berhasil.

Pak Bonasir ternyata ditengah-tengah keasyikannya menikmati jamu, walaupun begitu dia tak henti mengawasi gerak dan gerik Uus. Seketika dia melirik dan melihat Uus membuka penutup blumbung jangkriknya. Berbahan dari pecahan genting yang dia bentuk bulat. Ukurannya dia sesuaikan agar bisa menutup rapat lubang pada bambu tersebut. Pak Bonasir langsung bereaksi. Melakukan pencegahan yang cukup ekstrim. Atau bisa dikatakan aneh. Uus berhasil membuka tutupnya. Jangkrik sudah berada digenggaman telapak tangannya. Dan sekarang dengan perlahan dan hati-hati dia masukkan jangkrik itu dalam kantong saku bajunya. Namun apa hendak dikata. Dan Pak Bonasir tahu akan hal itu melalui lirikan matanya yang berlapis kacamata tebal. Seketika itu juga, disaat mulut masih berisi jamu yang belum tertelan sepenuhnya. "Byurrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrr", disemburkannya jamu tersebut ke muka Uus. Kontan saat itu juga muka Uus jadi tak keruan lucunya. Reaksinya yang malu bercampur jamu, bakteri dari dalam mulut pak Bonasir berkomposisi menjadi satu.

Bukan kepalang malunya saat itu memerhatikan Uus. Niat hati mengehemat uang untuk pengeluaran namun malah kena batunya. "Dasar bocah keranjingan kowe ya, isik bayi wani dadi maling. Ora pisan tapi wis ping pindo iki. Aku asline ngerti le nek raimu kuwi sing nyolong jangkrikku minggu kae" (Dasar anak keranjingan elu ya, masih kecil udah berani jadi maling. Gue aslinya tahu kalo elu yang nyolong jangkrik gue minggu lalu). Serentetan kata makian dari pak Bonasir untuk Uus. Seperti butir-butir peluru menghujam dadanya. Mencabik harga diri yang kini terasa tak ada artinya lagi. Lalu sambil menunjuk ke muka Uus yang masih tak keruan itu. Pak Bonasir belum juga puas mengancam, "aku ora wedi le nek kowe gak trimo, omongno, laporno wong tuamu kon rene" (gue gak takut kalo elu gak terima, bilang dan lapor ke orangtua elu). Uus cuma diam meratapi nasib. Tak ada kata barang sepatahpun dari dia. Dia sadar tak ada gunanya memdebatkan semua. Toh semua orang juga tahu dia yang keliru dan salah.

Ahh, Dadang dan saya cuma bisa cekikikan melihat momen tersebut. Peristiwa yang bakal kami ingat dalam hidup ini. Masa kecil yang penuh warna. Dan terkadang saat saya dan Dadang ketemu sempat membicarakan hal ini dia cuma tertawa. Cuma bisa cengengesan, lalu berkata, "ben dirasakne kuwi lho oleh-olehane bocah malingan" (biar dirasain itulah akibat anak tukang maling).

Sebelum pada akhirnya saya mengakhiri tulisan ini. Saya terimakasih pada teman-teman yang menemani saya di rumah sakit. Maafkan tak bisa membalas kebaikan kalian semua dengan hal yang setimpal. Kepada pihak rumah sakit juga saya ucapkan terimakasih dalam pelayanannya. Mau melayani kami masyarakat kurang mampu dengan sebaik-baiknya. Walaupun dengan keribetan birokrasi, tapi saya pada akhirnya cukup bisa mengambil hikmahnya. Bahwa itu semua sedikit banyak mampu melatih kesabaran saya. Dan pada akhirnya saya tahu jalur-jalur untuk mendapatkan fasilitas tersebut. Dan akhir kata sampai jumpa di cerita-cerita selanjutnya...