Showing posts with label Solo. Show all posts
Showing posts with label Solo. Show all posts

Tuesday, February 14, 2012

"Ini Tentang Rasa" 2

Jakarta, setelah Lebaran tahun 2003.........

Liburan hari raya Idul Fitri usai sudah. Aktivitas kembali normal dan Jakarta kembali memikul beban kehidupan manusia-manusia urban yang berasal dari seantero negeri ini.

Tagor, pemuda kelahiran Jakarta yang punya model rambut mirip Mus Moejiono tak lagi kembali. Kami, rekan kerjanya tak kaget akan hal tersebut. 18 hari yang lalu sebelum hari raya. Ia menunjukkan surat pemberhentian dirinya. Sebab proyek telah menunjukkan signal akan habis. Tanda-tanda akan hal tersebut sebetulnya telah kami baca dan rasakan. Selama bulan puasa nyaris tak ada lemburan sama sekali. Walaupun hanya berdurasi dua jam saja. Setiap hari, selama bulan Ramadhan kami hanya bekerja dalam hitungan waktu normal. Delapan jam. Pukul 16.00 WIB kami pun beranjak pulang. 

Plus pesangon dan THR yang dia tunjukkan pada saya dan teman lainnya. Namun pihak PT masih memberikan angin segar buatnya. Jika nanti ada kerjaan lagi atau proyek lagi tenaga dan pikirannya masih dibutuhkan. Oleh sebab itu setiap pekerja yang kena imbas dari pengurangan diharap mencantumkan no telepon yang bisa dihubungi. Jika suatu saat nanti ada kerjaan sesuai bidangnya. Namun Tagor tak lagi kembali, dia telah mendapatkan kerja yang baru.

Tagor tak sendiri dalam hal ini. Nasrudin. Kami sering memanggilnya dengan julukan Ateng. Baru saja dapat momongan. Lelaki asal Banjarnegara ini harus rela meletakkan pekerjaannya. Yadi juga begitu. Mudiknya ke Solo tahun ini bakalan panjang. Walaupun toh pada akhirnya pihak PT menghubunginya lagi ketika proyek di lokasi yang sama semarak lagi.

Amad dan Metro adalah punggawa tim elektrik dari Lampung yang masih tersisa. Walaupun akhirnya Metro pulang kampung. Penyebab si Metro pulang kampung bisa dilihat pada cerita sebelumnya. Kepergian Metro merupakan kehilangan sebenarnya. Karena dia golongan manusia yang tangguh. Setiap pekerjaan yang membutuhkan tenaga ekstra dia lah yang jadi jargon kami, tim listrik. Ada lagi Kristanto pria ngapak asal Gombong Jawa Tengah. Stereotipe wajahnya kental banget Ambon nya. Namun ketika orang lain mengobrol dengan nya akan ketahuan dari mana dia lahir dan dibesarkan. Terkadang dia terasa malu dengan aksen ngapaknya. Hingga dia terkadang juga memaksakan logat Jawa ala Solo, atau daerah Jawa Tengah lainnya yang tidak ngapak. Tapi saya selalu menekankan pada dia, "jadilah seperti apa yang kamu miliki, bahasa daerahmu adalah bagian dari budaya, yang proses penciptaan dan pencetusan ide dari leluhur-leluhur kamu juga memakan waktu yang tak singkat". Hingga akhirnya dia pun sadar dan memahami betapa pentingnya menghargai budaya dari mana tempat kita berasal. Termasuk bahasa daerah. Lalu tanpa canggung dia tetap berkata dan kami teman-temannya masih bisa mendengarkan kalimat, "yonge uwis teka nunggu rika'e lha kok suwi temen ya', nyang endi bae rika'e?"

Ada satu hal ketika pertama kali saya berjumpa dengan orang-orang Lampung. Kok dengan fasihnya mengucapkan bahasa Jawa. Usut punya usut setelah mendapat informasi dari mereka yang bersangkutan. Ternyata orang tua mereka rata-rata adalah orang Jawa. Atau paling tidak orang tua mereka masih mempunyai darah Jawa. Semisal Amad, menurut cerita dari dia, bahwa orangtua nya asli Blitar Jawa Timur. Ya karena berat diongkos buat pulang kampung jadinya sampai saat ini. Amad belum pernah menginjakkan kakinya di tanah leluhurnya. Bukan berarti dia, kacang lupa kulitnya, tapi keadaan lah yang membuatnya harus menunda keinginan tersebut.

Bahkan kalau saya nilai bahasa Jawa ngoko orang Lampung lebih terkesan masih murni. Suatu bukti mereka sering bilang, "piranti kerjane ojo sampek lali lho ya", mereka tidak mngganti kata piranti dengan kata alat.

Oh iya hampir saya lupa. Kembali pada Kristanto. Satu sifat dia yang tak akan pernah saya lupakan. Dia paling gemar membantu teman. Dia paling hemat diantara kami. Selain kami kas bon pada kantor Kristanto juga bisa diandalkan tatkala kami kesulitan dalam hal financial. Paling perlu digaris bawahi dia juga punya sistem yang sama dengan kantor saat memberi pinjaman pada kami. Yaitu tanpa pernah membebani dengan bunga dan jaminan. Sifatnya tulus membantu apa yang dia bisa dan mampu.Dari sifat tersebut jkami jadi berpikir 99 kali untuk berbuat curang padanya. Semisal tak mengembalikan uang padanya. Saat berhutang.

Kristanto sempat juga marah dengan saya. Lantaran saya salah dalam mengambil posisi. Waktu itu saya, Amad, Wahid, serta dirinya bersama-sama mengangkat besi penyangga haspel (penggulung kabel). Posisi Kristanto akhirnya terjepit pas pada bagian lehernya. Kalau dia tidak cepat beraksi kemungkinan besar akan terkilir lehernya. Dia pun marah. Tapi apa mau dikata saya cuma bisa mengakui kesalahan. Atas ketidak telitian dalam mengambil posisi yang tepat. Sebagai pria yang lebih dewasa dari saya. Baik usia maupun pikiran akhirnya dia memahami. Bahwa memang saya masih perlu banyak belajar. Learn and more.

Saya mungkin termasuk dalam golongan manusia yang sedikit mujur bahkan beruntung saat itu. Seharusnya jika merunut asal muasal saya dari tim elektrik. Sepatutnya saya termasuk nominasi kuat untuk terdepak sebelum lebaran datang. Sebab kebanyakan jumlah personil sedangkan jumlah pekerjaan berangsur turun. Keberuntungan saya ini lantaran Unyil mengundurkan diri sebagai pembantu nya Feri mekanik AC asal Mojokerto. Bicara soal Feri kini nasibnya malah tidak menentu. Dia sekarang terkena gangguan jiwa. Menurut kabar dari Wahid ketika menelepon saya tahun lalu, 2011.

Kembali pada topik kisah si Unyil..

Suatu malam yang nahas bagi dirinya. Tergiur harga logam tembaga yang mengalami kenaikan dia nekad membawa pulang sisa-sisa potongan kabel power. Di sela waktu sebelum istirahat siang dia mampir sejenak beberapa menit. Mengunjungi kami anak-anak penarik kabel. Waktu itu sudah tidak ada jadwal penarikan kabel, melainkan lagi sibuk-sibuknya dengan urusan connect to panel.

Setiap lantai terdapat panel induk sebagai pemasok tenaga listrik ditiap-tiap lantai. Otomatis tiap-tiap panel induk di tiap lantai juga harus saling berhubungan. Satu dengan yang lainnya. Maka dari itu ada beberapa kabel power yang menjadi penghubungnya. Jumper. Lha kabel-kabel jumper itulah awal penyebab Unyil melakukan kecurangan.

Daripada kurang mendingan lebih. Pepatah lama yang jadi acuan agar selalu antisipasi terhadap kemungkinan yang terjadi di waktu ke depan. Ketika panel belum terpasang untuk mengantisipasi jika ada pergeseran letak panel. Maka dengan kesepakatan melebihkan ukuran kabel. Memberi spare setengah meter dari ukuran sebelumnya.

Unyil pun tergoda akan sisa-sisa potongan nya. Lalu memotong kabel-kabel sisa sedikit lebih pendek dari panjang telapak kakinya. Agar muat dimasukin sepatu.

Akan tetapi yang dilakukan Unyil memang kelewat batas. Ambisinya adalah sebanyak mungkin, satu dua kali berhasil akhirnya terus-terusan. Kita cuma geleng-geleng kepala. Karena tak tahu haru gimana lagi kasih nasehat ke dia.

Ahhhh, malam yang nahas bagi dia. Ketika keluar dari bedeng seperti biasa satpam memeriksa para pekerja proyek yang pulang. Karena sepatu tak muat, Unyil menaruh hasil kerja sampingan hari ini ke dalam tas. Dia tak menyadari justru saat itu dia sedang mengundang tragedi untuk nasibnya. Petugas meraba ada yang aneh dalam tas nya. kemudian menyuruh Unyil membuka retsleting tas itu. Karena saking paniknya Unyil berniat lari. Tapi baru sekitar lima meter tas nya jatuh. Lantaran selempang tas punggungnya putus. Petugas akhirnya dengan sangat leluasa berhasil mendapatkan tas itu dan mengetahui isinya.

Unyil pada akhirnya diintrogasi kurang lebih selama satu jam. Segenapstaf kantor kebingungan. Lalu menghubungi Bapak Sardomo. Inilah ketika pemilik PT datang nasib Unyil ditentukan.

Beruntung saat itu belum memasuki tahap hand over atau serah terima. Dari PT JMS ke pihak Wisma Mulia. Jadi potongan kabel sisa itu masih hak JMS. Lalu tentang nasib Unyil keputusan diserahkan pada pak Sardomo. Selaku pemilik kabel.

JMS beruntung punya punya pemimpin seperti dia. Jiwanya pemaaf. Tidak menjatuhkan hukuman pada Unyil malah memberikan kesempatan pada Unyil untuk tetap bekerja lagi. Keputusan itu muncul lantaran pak Sardomo memahami alasan, kenapa dirinya melakukan hal tersebut.

Lelaki asal kota Pati Jawa Tengah. Unyil, sejak lulus SMP meninggalkan kampung halaman. Bersama orangtua nya merantau ke Jakarta. Tinggal di rumah kontrakkan daerah Mampang Buncit. Adiknya masih butuh biaya untuk sekolah. Sedang orangtua nya telah berusaha sekuat tenaga, cuma cukup untuk urusan perut sehari-hari. Hasil kerja Unyil harus terbagi buat keperluan nya dan kewajiban-kewajiban sang adik terhadap iuran sekolah. Walau masih sekolah dasar pastinya kita sedikit mampu memprediksi biaya yang harus dibayar bukan? Belum lagi buku-buku penunjang belajarnya.

Itulah alasan kenapa pak Sardomo punya keputusan demikian. Tetapi mau dikata apalagi, Unyil tetap bergeming pada keputusan nya. Yang tak bisa diganggu gugat oleh pihak manapun. Sekalipun pemilik tempat dia bekerja sendiri yang memintanya untuk tetap bertahan dan terus bekerja lagi. Dia, Unyil tak bisa merubah pilihan. Malu jadi alasan.

Ohhh, ternyata malu merupakan sekat yang sulit untuk dihilangkan. Ketika manusia telah menyentuh selaput yang dinamakan sifat malu. seakan hidup tiada lagi gairah. Apakah malu juga merupakan bagian dari, ini tentang rasa yang tak biasa?"