Showing posts with label Jakarta. Show all posts
Showing posts with label Jakarta. Show all posts

Tuesday, February 14, 2012

"Ini Tentang Rasa" 2

Jakarta, setelah Lebaran tahun 2003.........

Liburan hari raya Idul Fitri usai sudah. Aktivitas kembali normal dan Jakarta kembali memikul beban kehidupan manusia-manusia urban yang berasal dari seantero negeri ini.

Tagor, pemuda kelahiran Jakarta yang punya model rambut mirip Mus Moejiono tak lagi kembali. Kami, rekan kerjanya tak kaget akan hal tersebut. 18 hari yang lalu sebelum hari raya. Ia menunjukkan surat pemberhentian dirinya. Sebab proyek telah menunjukkan signal akan habis. Tanda-tanda akan hal tersebut sebetulnya telah kami baca dan rasakan. Selama bulan puasa nyaris tak ada lemburan sama sekali. Walaupun hanya berdurasi dua jam saja. Setiap hari, selama bulan Ramadhan kami hanya bekerja dalam hitungan waktu normal. Delapan jam. Pukul 16.00 WIB kami pun beranjak pulang. 

Plus pesangon dan THR yang dia tunjukkan pada saya dan teman lainnya. Namun pihak PT masih memberikan angin segar buatnya. Jika nanti ada kerjaan lagi atau proyek lagi tenaga dan pikirannya masih dibutuhkan. Oleh sebab itu setiap pekerja yang kena imbas dari pengurangan diharap mencantumkan no telepon yang bisa dihubungi. Jika suatu saat nanti ada kerjaan sesuai bidangnya. Namun Tagor tak lagi kembali, dia telah mendapatkan kerja yang baru.

Tagor tak sendiri dalam hal ini. Nasrudin. Kami sering memanggilnya dengan julukan Ateng. Baru saja dapat momongan. Lelaki asal Banjarnegara ini harus rela meletakkan pekerjaannya. Yadi juga begitu. Mudiknya ke Solo tahun ini bakalan panjang. Walaupun toh pada akhirnya pihak PT menghubunginya lagi ketika proyek di lokasi yang sama semarak lagi.

Amad dan Metro adalah punggawa tim elektrik dari Lampung yang masih tersisa. Walaupun akhirnya Metro pulang kampung. Penyebab si Metro pulang kampung bisa dilihat pada cerita sebelumnya. Kepergian Metro merupakan kehilangan sebenarnya. Karena dia golongan manusia yang tangguh. Setiap pekerjaan yang membutuhkan tenaga ekstra dia lah yang jadi jargon kami, tim listrik. Ada lagi Kristanto pria ngapak asal Gombong Jawa Tengah. Stereotipe wajahnya kental banget Ambon nya. Namun ketika orang lain mengobrol dengan nya akan ketahuan dari mana dia lahir dan dibesarkan. Terkadang dia terasa malu dengan aksen ngapaknya. Hingga dia terkadang juga memaksakan logat Jawa ala Solo, atau daerah Jawa Tengah lainnya yang tidak ngapak. Tapi saya selalu menekankan pada dia, "jadilah seperti apa yang kamu miliki, bahasa daerahmu adalah bagian dari budaya, yang proses penciptaan dan pencetusan ide dari leluhur-leluhur kamu juga memakan waktu yang tak singkat". Hingga akhirnya dia pun sadar dan memahami betapa pentingnya menghargai budaya dari mana tempat kita berasal. Termasuk bahasa daerah. Lalu tanpa canggung dia tetap berkata dan kami teman-temannya masih bisa mendengarkan kalimat, "yonge uwis teka nunggu rika'e lha kok suwi temen ya', nyang endi bae rika'e?"

Ada satu hal ketika pertama kali saya berjumpa dengan orang-orang Lampung. Kok dengan fasihnya mengucapkan bahasa Jawa. Usut punya usut setelah mendapat informasi dari mereka yang bersangkutan. Ternyata orang tua mereka rata-rata adalah orang Jawa. Atau paling tidak orang tua mereka masih mempunyai darah Jawa. Semisal Amad, menurut cerita dari dia, bahwa orangtua nya asli Blitar Jawa Timur. Ya karena berat diongkos buat pulang kampung jadinya sampai saat ini. Amad belum pernah menginjakkan kakinya di tanah leluhurnya. Bukan berarti dia, kacang lupa kulitnya, tapi keadaan lah yang membuatnya harus menunda keinginan tersebut.

Bahkan kalau saya nilai bahasa Jawa ngoko orang Lampung lebih terkesan masih murni. Suatu bukti mereka sering bilang, "piranti kerjane ojo sampek lali lho ya", mereka tidak mngganti kata piranti dengan kata alat.

Oh iya hampir saya lupa. Kembali pada Kristanto. Satu sifat dia yang tak akan pernah saya lupakan. Dia paling gemar membantu teman. Dia paling hemat diantara kami. Selain kami kas bon pada kantor Kristanto juga bisa diandalkan tatkala kami kesulitan dalam hal financial. Paling perlu digaris bawahi dia juga punya sistem yang sama dengan kantor saat memberi pinjaman pada kami. Yaitu tanpa pernah membebani dengan bunga dan jaminan. Sifatnya tulus membantu apa yang dia bisa dan mampu.Dari sifat tersebut jkami jadi berpikir 99 kali untuk berbuat curang padanya. Semisal tak mengembalikan uang padanya. Saat berhutang.

Kristanto sempat juga marah dengan saya. Lantaran saya salah dalam mengambil posisi. Waktu itu saya, Amad, Wahid, serta dirinya bersama-sama mengangkat besi penyangga haspel (penggulung kabel). Posisi Kristanto akhirnya terjepit pas pada bagian lehernya. Kalau dia tidak cepat beraksi kemungkinan besar akan terkilir lehernya. Dia pun marah. Tapi apa mau dikata saya cuma bisa mengakui kesalahan. Atas ketidak telitian dalam mengambil posisi yang tepat. Sebagai pria yang lebih dewasa dari saya. Baik usia maupun pikiran akhirnya dia memahami. Bahwa memang saya masih perlu banyak belajar. Learn and more.

Saya mungkin termasuk dalam golongan manusia yang sedikit mujur bahkan beruntung saat itu. Seharusnya jika merunut asal muasal saya dari tim elektrik. Sepatutnya saya termasuk nominasi kuat untuk terdepak sebelum lebaran datang. Sebab kebanyakan jumlah personil sedangkan jumlah pekerjaan berangsur turun. Keberuntungan saya ini lantaran Unyil mengundurkan diri sebagai pembantu nya Feri mekanik AC asal Mojokerto. Bicara soal Feri kini nasibnya malah tidak menentu. Dia sekarang terkena gangguan jiwa. Menurut kabar dari Wahid ketika menelepon saya tahun lalu, 2011.

Kembali pada topik kisah si Unyil..

Suatu malam yang nahas bagi dirinya. Tergiur harga logam tembaga yang mengalami kenaikan dia nekad membawa pulang sisa-sisa potongan kabel power. Di sela waktu sebelum istirahat siang dia mampir sejenak beberapa menit. Mengunjungi kami anak-anak penarik kabel. Waktu itu sudah tidak ada jadwal penarikan kabel, melainkan lagi sibuk-sibuknya dengan urusan connect to panel.

Setiap lantai terdapat panel induk sebagai pemasok tenaga listrik ditiap-tiap lantai. Otomatis tiap-tiap panel induk di tiap lantai juga harus saling berhubungan. Satu dengan yang lainnya. Maka dari itu ada beberapa kabel power yang menjadi penghubungnya. Jumper. Lha kabel-kabel jumper itulah awal penyebab Unyil melakukan kecurangan.

Daripada kurang mendingan lebih. Pepatah lama yang jadi acuan agar selalu antisipasi terhadap kemungkinan yang terjadi di waktu ke depan. Ketika panel belum terpasang untuk mengantisipasi jika ada pergeseran letak panel. Maka dengan kesepakatan melebihkan ukuran kabel. Memberi spare setengah meter dari ukuran sebelumnya.

Unyil pun tergoda akan sisa-sisa potongan nya. Lalu memotong kabel-kabel sisa sedikit lebih pendek dari panjang telapak kakinya. Agar muat dimasukin sepatu.

Akan tetapi yang dilakukan Unyil memang kelewat batas. Ambisinya adalah sebanyak mungkin, satu dua kali berhasil akhirnya terus-terusan. Kita cuma geleng-geleng kepala. Karena tak tahu haru gimana lagi kasih nasehat ke dia.

Ahhhh, malam yang nahas bagi dia. Ketika keluar dari bedeng seperti biasa satpam memeriksa para pekerja proyek yang pulang. Karena sepatu tak muat, Unyil menaruh hasil kerja sampingan hari ini ke dalam tas. Dia tak menyadari justru saat itu dia sedang mengundang tragedi untuk nasibnya. Petugas meraba ada yang aneh dalam tas nya. kemudian menyuruh Unyil membuka retsleting tas itu. Karena saking paniknya Unyil berniat lari. Tapi baru sekitar lima meter tas nya jatuh. Lantaran selempang tas punggungnya putus. Petugas akhirnya dengan sangat leluasa berhasil mendapatkan tas itu dan mengetahui isinya.

Unyil pada akhirnya diintrogasi kurang lebih selama satu jam. Segenapstaf kantor kebingungan. Lalu menghubungi Bapak Sardomo. Inilah ketika pemilik PT datang nasib Unyil ditentukan.

Beruntung saat itu belum memasuki tahap hand over atau serah terima. Dari PT JMS ke pihak Wisma Mulia. Jadi potongan kabel sisa itu masih hak JMS. Lalu tentang nasib Unyil keputusan diserahkan pada pak Sardomo. Selaku pemilik kabel.

JMS beruntung punya punya pemimpin seperti dia. Jiwanya pemaaf. Tidak menjatuhkan hukuman pada Unyil malah memberikan kesempatan pada Unyil untuk tetap bekerja lagi. Keputusan itu muncul lantaran pak Sardomo memahami alasan, kenapa dirinya melakukan hal tersebut.

Lelaki asal kota Pati Jawa Tengah. Unyil, sejak lulus SMP meninggalkan kampung halaman. Bersama orangtua nya merantau ke Jakarta. Tinggal di rumah kontrakkan daerah Mampang Buncit. Adiknya masih butuh biaya untuk sekolah. Sedang orangtua nya telah berusaha sekuat tenaga, cuma cukup untuk urusan perut sehari-hari. Hasil kerja Unyil harus terbagi buat keperluan nya dan kewajiban-kewajiban sang adik terhadap iuran sekolah. Walau masih sekolah dasar pastinya kita sedikit mampu memprediksi biaya yang harus dibayar bukan? Belum lagi buku-buku penunjang belajarnya.

Itulah alasan kenapa pak Sardomo punya keputusan demikian. Tetapi mau dikata apalagi, Unyil tetap bergeming pada keputusan nya. Yang tak bisa diganggu gugat oleh pihak manapun. Sekalipun pemilik tempat dia bekerja sendiri yang memintanya untuk tetap bertahan dan terus bekerja lagi. Dia, Unyil tak bisa merubah pilihan. Malu jadi alasan.

Ohhh, ternyata malu merupakan sekat yang sulit untuk dihilangkan. Ketika manusia telah menyentuh selaput yang dinamakan sifat malu. seakan hidup tiada lagi gairah. Apakah malu juga merupakan bagian dari, ini tentang rasa yang tak biasa?"




Saturday, February 4, 2012

"Apakah kita Setuju?"

Madiun, 4 Februari 2012, 01.22 WIB

Ketika mengawali tulisan ini saya harus mengakui pada diri saya sendiri. Bahwasanya untuk memulai darimana saya sendiri juga bingung sob. Butuh waktu yang lumayan panjang untuk berpikir. Atau inilah kelemahan saya? Sedikit lambat dalam berpikir untuk menemukan ide. Bisa saja benar begitu.

Tapi untungnya ada kumpulan lagu dari MLTR di ponsel simpel saya. Nokia 5310 ini. Jadi kebuntuan itu tak begitu terasa banget. 


Seperti biasa pukul 01.22 pagi saya belum juga kunjung mengantuk. Setelah tadi hampir selama dua jam menikmati sebuah tontonan film yang tersimpan dalam flashdisk saya. Film berjudul 'Water Of Elephants' yang kemarin lusa mengkopi nya lewat komputer Stevy. Bercerita tentang dunia sirkus ternyata lumayan bagus juga dan inspiratif. Oh iya saya sekalian mau bilang pada kalian bahwa sebuah film disamping menghibur, ternyata juga mampu memberi wawasan, pengetahuan baru, dan yang paling penting ada sisipan motivasi. Semacam inspirasi tentang bagaimana kita menjalani kehidupan ini agar lebih baik dari yang kemarin dan seterusnya.

Saya duduk di kursi kayu tua. Menyandarkan siku lengan kiri pada meja makan rumah. Sementara penghuni rumah yang lainnya sudah pada terlelap dalam tidur. My Mom (ibu saya) tercinta sedang pulas tertidur di atas ranjang tidurnya yang terbuat dari kayu juga. Terbungkus kain batik, jarik sebagai selimut pengurang rasa dingin udara dinihari ini. Radio kecil produksi PT National bertenaga batu baterei yang berusia lebih dari separuh usia saya. masih setia menemani tiap tidur pulasnya. Tok....tok...tok...tok... Dalang memukul kotak wadah tokoh pewayangannya. Tanda cerita memasuki tahap Goro-goro. Entah lakon apa yang sedang dimainkan. Saya tak tahu. Tak begitu jelas jelas terdengar volume radio itu mengisi udara. Hanya semriwing mampir di telinga saya. Terkadang suara para pesinden diiringi irama musik tradisonal Jawa menembangkan langgam-langgam. Menambah kesan manis Pagelaran Wayang Kulit semalam suntuk ini. Menjadi jeda sebelum Dalang memainkan tokoh baru.

Di kota ini ada dua stasiun pemancar siaran radio yang lumayan eksis mengudarakan Pagelaran Wayang Kulit. Walaupun sering merupakan siaran hasil rekaman. Di saat momen-momen tertentu juga tak jarag mengudarakan secara langsung. RRI Madiun dan Radio Gabriel layak dijadikan pelopor terdepan dalam penjaga dan pelestarian kebudayaan Jawa itu.

Untuk stasiun radio Gabriel. Ada semacam catatan kenangannya. Masa kecil. Masa yang paling riang penuh cerita. Saya teringat ketika sore hari selepas Ashar. Dua dekade yang lalu. Matahari merebahkan diri ke ufuk barat. Guna melanjutkan tugasnya menerangi lapisan bumi lainnya. Bersama teman-teman mengisi waktu sore. Bermain bola di lapangan Rowo. Tanah berlapis rumput bekas rawa-rawa yang pada akhirnya malah jadi lapangan yang luasnya setara dengan beberapa hektar sawah. Terkadang kita naik di atas punggung kerbau yang sengaja digembalakan di situ. Dan tentu untuk menaiki kami harus ijin dulu kepada si pemilik yang sekaligus menggembalakan kerbau-kerbau itu.

Adapula permainan lain yaitu jenis petak umpet. Kebetulan lapangan Rowo dekat dengan PDAM (Perusahaan Daerah Air Minum) yang menaranya tampak dari kejauhan. Dengan gagahnya menjulang. Terdapat gorong-gorong penyalur air yang tidak terpakai. Tertumpuk di sisi timur lapangan. Gorong-gorong tersebutlah yang akhirnya oleh kami dialih fungsikan sebagai tempat persembunyian (ngumpet). Tak peduli apapun resiko atas tindakan tersebut. Kami tetap saja melakukan. Memang dasar anak-anak.

Bisa saja kan kalau tumpukan gorong-gorong tersebut melorot. Atau di dalamnya terdapat binatang buas yang kebetulan sedang beristirahat di situ. Semisal ular kan ngeri juga kan?" Sebab salah satu teman saya pernah mendapati seekor ular Weling merayap disela-sela rumput. Catur, sekarang beken dengan julukan Gempil*. Sebab salah satu giginya ada yang patah sebagian. Sehingga menyisakan sekitar setengah centimeter yang masih terkait gusi atas. Kira-kira lho belum pasti gue juga gak ngukur seberapa panjang sisa gigi yang patah itu. Oleh karena itu Dadang menjulukinya begitu. Akan tetapi tak kalah menggenaskan Dadang ternyata harus mengalami nasib yang lebih tragis dari Catur. Erik Peyek menobatkan sebuah julukan padanya yaitu, Dadang Jenglot. Mungkin ini akibat rasa kecewa pada Dadang. Sebab beberapa tahun yang lalu dia memberikan Catur julukan dengan nama Anggoro. Yang kayanya juga lebih pas. Bahkan seorang Adi Ankafia pernah berkata pada saya. Sewaktu dia mudik. Mendengar saya memanggil Catur dengan nama Anggoro kata si Adi Ankafia cocok banget. Malah dia juga tanya, "sopo yu sing ngekek'i jeneng Anggoro neng Catur? (siapa yu yang kasih nama tambahan Anggoro ke Catur).

(*) Salah satu kata dalam bahasa Jawa. Lazim digunakan untuk kelereng yang pecah atau rusak.

"Ulo, enek ulo weling" (Ular ada ular weling). Teriakan Catur Gempil Anggoro membuyarkan konsentrasi yang lain bermain bola. Segera saja tanpa ada komando, semua berhamburan.lari mnegikuti Catur yang ingin sekali mengejar ular tersebut. Nahas memang nasib menimpa  binatang reptil tak berkaki  itu. Terjebak dalam got yang buntu. Cuma pasrah menerima hujaman batu dari kami yang masih anak-anak. Hanya tahu bahwa ular adalah binatang yang berbahaya bagi manusia. Terakhir nasib bangkainya dilempar di sebuah kali kecil. Sebelah barat lapanga Rowo. Catur, yang bernyali diantara kami mencapitnya dengan potongan ranting dari pohon Sawo Manilo dan menceburkannya ke kali.

Terkadang kita juga menyempatkan diri untuk berteduh menikmati rindangnya taman stasiun pemancar radio Gabriel. Sambil mereguk es segar mendengarkan gita-gita pop dalam karya anak negeri yang populer waktu itu. Betharia Sonata, Obbie Mesak, Iwan Fals, Alm. Chrisye, Trio Libel's, Utha Likumahuwa, Trie Utami, Ruth Sahanaya, dan masih banyak lagi.


Namun waktu terus bergulir. Laksana sebatang pohon kami terus tumbuh dan mengalami perubahan pula dalam hidup. Begitu pula lapangan Rowo. Kini tak tampak lagi dari penglihatan. Tertutup tingginya tembok yang mengitarinya. Cuma menara PDAM yang tersisa jadi pemandangan. Kini semua masa anak-anak harus pula berubah menjadi masa muda (remaja).
................
Madiun, 5 Februari 01.10 WIB


Selamat Anda sedang memasuki masa muda...!"


Ini adalah masa di mana seorang manusia bisa  tergelincir jatuh jika tak hati-hati dalam melangkah. Sebab ketika terjerembab akan sulit untuk bangkit lagi ketika semua semangat telah memudar. Masa muda sebuah rangkaian waktu yang penuh dengan rasa ingin tahu. Penasaran begitu tinggi mengiringi masa ini. Ketika masa kecil kita takut melakukan sebuah larangan. Tetapi di masa ini, masa remaja, bukan lagi takut, namun terkadang malah bangga bila sampai melakukan larangan tersebut. Bahkan banyak yang beranggapan bahwa aturan hanyalah bersifat absurd. Satu hal yang mudah membuat seorang pemuda menjadi tergelincir adalah minuman keras. Lalu kenapa kita dilarang melakukan hal ini?


Oke. Saya tidak mau termasuk dalam golongan manusia yang naif. Setiap manusia memang tercipta untuk terus tergoda. Agar melakukan setiap larangan. Setiap pemuda hampir di seluruh dunia ini 80 persen saya percaya. Pastinya pernah merasakan apa itu minuman keras, dari jenis apapun. Termasuk saya. Lalu apa yang menjadi sebab hingga kita akhirnya terjebak itu semua.


Dosa dan neraka?" Semua mungkin percaya karena termaktub dalam tiap-tiap kitab suci. Tapi untuk saat ini saya tidak akan membicarakan kedua hal tersebut. Sebab terlalu jauh untuk ke arah situ. Kita butuh sebuah sarana atau kendaraan yang kecepatannya melebihi kecepatan cahaya. Yaitu sakaratul maut. Dan mungkin malah akan menyulitkan saya sendiri bila saya memaksakan untuk berbicara tentang dosa dan neraka.


Oke sob. Kita tinggalkan perihal dosa dan neraka. Sekarang saya ingin memberikan sebuah cerita tentang kemarin sore. Ketika hujan agak deras mengguyur kota ini saya harus keluar, membeli accu motor saya. Yang memang sudah waktunya ganti. Sebenarnya bukan mutlak milik saya sih motor produk Honda tersebut. Tiga bulan yang lalu kakak saya dari Jakarta mengirimkan motor itu untuk saya. "Buat kendaraan di kampung", kata dia begitu. Sebagai ganti dan ucapan terimakasih maka wajar dong kalau saya merawat sepeda motor tersebut. Sebab dengan begitu kan saya sudah berusaha untuk turut serta dalam pemeliharaan aset keluarga. Oke singkat saja. Sewaktu saya tiba di toko saya mendapatkan pelajaran berarti dalam hidup.
"Harta yang paling berharga adalah kesehatan"

Satu dari 14 falsafah hidup yang ditranslet dari bahasa China tertempel di etalase toko tersebut. Nama tokonya Denso. Saya baca satu persatu dan kebetulan dari sekian tulisan kalimat, pesan atau falsafah hidup itu. Kalimat di atas adalah rangkaian kata yang paling berhubungan dengan tulisan ini. Semua kalimat dalam rangkaian falsafah itu sebenarnya termasuk dalam golongan kalimat spektakuler. Cuman karena yang di atas cocok sama tulisan ini maka itu saja yang perlu saya tulis.


Dari tulisan tersebut saya jadi teringat ketika dulu waktu saya kerja di Jakarta. Sebagai pegawai berbayar mingguan sebuah kontraktor bergerak bidang elektrik dan mekanik. Waktu tahun 2002 hingga 2004, proyek yang kita kerjakan yaitu di jalan Gatotsubroto Jakarta Selatan. Wisma Mulia. Kala itu sebagai seorang pemuda yang baru memasuki dunia kerja ternyata sempat membuat saya lupa sob. Dengan memiliki penghasilan sendiri saya mulai mencoba hal-hal yang sebelumnya saya anggap menjadi larangan. Akhirnya saya terjang juga. Malam minggu mungkin jadi malam perayaan paling meriah. Bagi kami pekerja proyek. Dengan uang gaji di tangan. Tentunya ingin bersenang-senang.

Bersama rekan kerja kita kumpul di kantor. Jalan Raden Inten Jakarta Timur. Dari kontrakan bulek saya yang ada di kawasan Cawang harus tiga kali naik angkutan. Dan terjadilah sebuah perayaan akhir pekan dengan pesta minum sampai pagi. Hingga terus-menerus begitu-begitu saja saya mengisi malam minggu tanpa ada kesan lelah. Hingga titik puncak itupun tiba juga yang akhirnya membuat saya mengerti kenapa minuman keras jadi hal larangan?"


Saya pada akhirnya mengalami gangguan pencernaan yang cukup menyiksa sob. Meskipun pola makan saya teratur namun gangguan itu tak kunjung juga reda. Beberapa hari saya mengalami mencret yang gak ketulungan dahsyatnya. Bayangkan jika dalam sehari kita bolak-balik ke belakang sampai sepuluh kali. Apakah itu bukan termasuk golongan tersiksa. Mending kalau sehari atau dua hari sembuh. Kalau seperti saya hampir seminggu. Belum lagi pas lagi sudah agak mendingan, sekarang giliran malah susah buang air besar. Terasa badan amat tersiksa. Dan dalam keadaan seperti itu saya mulai berpikir, "apakah ini akibat dari minuman keras?" Ini baru gangguan pencernaan sob. belum kalau sudah menjalar ke penyakit yang menyerang organ dalam tubuh yang perannya vital. Apa yang terjadi dengan saya?" Saya selalu bertanya.

Seketika itu juga saya mulai berpikir untuk sebisa mungkin menghindari apa itu minuman keras. Saya mulai menyadari bahwa sebab-sebab sebuah aturan dibuat, pasti karena ada akibat yang ditimbulkan. Jika kita nekad melanggarnya. Contoh paling kongkrit adalah penyakit. Tanpa harus saya berpikir bagaimana bentuk dosa dan neraka. Bukankah yang namanya sakit itu cukup membuat saya bakal tersiksa. Dan saya akhirnya cuma bisa berkata dalam hati, "saya tak ingin merasakan neraka, sebelum masuk neraka".


Bukankah semua organ tubuh manusia ini diciptakan melalui sistem ketelitian yang sangat presisi sekali hitungannya? Bukankah organ tubuh manusia ini saling punya kaitan dalam hal kinerja nya. Bila salah satu saja mengalami gangguan maka dapat dipastikan akan timpang. Jangankan menikmati, gairah hidup pun akan pudar, fade.


Bagaimana jika fungsi hati, jantung, lambung, paru-paru, mengalami gangguan dalam melakukan kinerjanya. Akankah hidup ini terasa enak dan nyaman mnejalankan aktivitas. Dan dapat saya simpulkan bahwa ungkapan dari salah satu falsafah China yang saya baca sore hari kemarin memang benar dan tepat.


Terakhir saya cuma bisa menyampaikan....

-Raga adalah amanah dari Tuhan bagi setiap mahkluk, terutama manusia. Marilah kita menjaga amanah yang berupa raga ini dengan sebaik-baiknya.

-Marilah kita bersama-sama berusaha untuk membuat Tuhan sedikit tersenyum melihat kita.
Dengan cara menjaga salah satu aset yang berharga dariNYA itu. Yaitu tubuh yang sehat.
Tentu dengan pola hidup yang sehat pula.